Obituari 3

Baru saja, aku ditampar, untuk kesekian kalinya oleh suamiku. Dengan alasan yang sama dengan kemarin, aku hanya meminta uang untuk membeli celana anakku. Bukan usaha, atau doa baik yang kuterima, ketika ia tak mampu memberikan hal berupa uang. Justeru tamparan yang dilayangkan padaku. Kucatat baik baik.

Limpakuwus, 06 Mei 2020
20:41 PM

Obituari 2

Hujan sore yang ke sekian. Rambut lepek, badan asem, dan banyak hal yang sedang tidak membuatku merasa nyaman saat ini. Di kamar, sekedar bermaksud mengecek notifikasi di handphone. Tapi tanganku tergerak untuk menulis, soal obituari yang tempo hari belum berkesudahan, entah sampai kapan, tapi akan kucoba tulis terus. Sebagai catatan perjuangan hidupku sendiri, sampai benar benar mati.
Hidupku masih begini begini saja. Kebaikan yang berbeda adalah, separuh hariku kuhabiskan untuk pergi ke kota (katakanlah untuk bekerja). Sebetulnya ada cerita panjang di balik ini semua. Februari awal tahun, aku dan suamiku pergi bersama ke Jogjakarta memenuhi undangan wawancara dari sebuah perusahaan, singkat cerita, hasil wawancaraku lebih unggul dibanding suamiku, akhirnya aku yang menempati posisi sebagai sekretaris cabang di perusahaan itu. Sayangnya, pekerjaan ini hanya aktif satu bulan, yakni Maret saja, dengan gaji yang cukup. Setelah Maret, ada pandemi corona melanda Indonesia sehingga segala big project ditunda. Tetapi kugunakan alasan “bekerja” tanpa libur supaya aku bisa tetap pergi keluar dan tidak bertahan di rumah mertua yang penuh dengan kejahatan ini.
Aku memulai usaha jual beli online segala rupa barang, hasilnya lumayan untuk beli popok anakku. Melihat suamiku yang masih santai dan leha leha, membuat hatiku terpukul sekali, aku bangun sendiri, tidak lelah untuk berhujan ria hanya untuk mengantar barang seharga Rp 15.000 ke pemesan. Tapi aku senang, setidaknya kebutuhan anakku tidak terbengkalai dan tidak melulu harus dipenuhi oleh mertua.
Beberapa kejadian yang perlu kucatat sebetulnya sudah seringkali terjadi di cerita sebelumnya. Aku masih sering menangis ketika ada omongan tidak masuk akal masuk ke telingaku, ketika ada permintaan permintaan tak wajar dari mertuaku untuk memenuhi kebutuhan anakku, seringkali menangis karena kelelahan dan bertanya tanya, haruskah aku sebagai wanita selelah ini? Mencari nafkah sendiri seperti tak punya suami. Padahal sudah di depan mata, suamiku hidup dalam keadaan sehat, pun di depan mata mertuaku, mereka melihat sendiri kelakuan anaknya persis. Tapi tuntutan pemenuhan kebutuhan itu tetap jatuh kepadaku. Akulah Ibu Rumah Tangga sekaligus kepala keluarga.
Kejadian malam itu kuingat betul, menyebabkan perdebatan dengan suami sampai jam tiga pagi. Sore hari aku hanya bercerita bahwa baju baju anak sudah tidak muat, perlu beli baru, Ibu juga terus terusan mendesak untuk membelikan baju baju baru untuk anakku. Tapi kukatakan bahwa uangku masih kupakai untuk memutar modal dagangan, aku meminta bantuan suami untuk coba memikirkan, mencarikan uang untuk “beli baju anak” yang tentu saja adalah anaknya sendiri, bukan cuma anakku. Tapi responnya diam saja. Malam hari kubahas lagi, membuat emosinya naik. Dia katakan kalau aku terlalu menuntut ini itu, sudah tau dia tak kerja tapi masih minta uang. Hatiku hancur seketika, sebagai isteri, aku masih ingin diperlakukan adil, aku masih perlu menuntut nafkah kepada suami, nafkah anak, jika bukan kepada dia, lalu harus meminta kepada siapa? Dia justeru memintaku untuk meminjam kepada teman temanku, dan lebih senang demikian. Aku menangis sesegukan, sampai membahas perceraian, aku ingin pisah.
Tempo hari sebelum itu pun ada masalah yang sangat sepele menurut dia tapi menyakitkan untukku. Kuminta dia untuk mengisi saldo ATM supaya bisa belanja online pesanan teman temanku, tapi sebagian uangnya ia pakai untuk beli rokok. Sampai di rumah baru dia berkata bahwa uangnya tidak semuanya disaldokan, dia ingin beli rokok. Bukan perkara rokok yang kupermasalahkan, tetapi lebih kepada kejujurannya. Kenapa tidak bilang kalau butuh rokok, padahal biasanya aku membelikan dia rokok tanpa dia minta. YA, AKU MENANGGUNG UANG ROKOK SUAMIKU, SETIAP HARI. Kenapa harus uang modal yang harus dipakai. Aku bisa berikan uang lain di dompet, asal jangan uang itu karena saldo yang masuk jadi tidak sesuai kebutuhan penjualan. Tapi dia tidak mau mengerti. Sampai sampai aku dibilang isteri tidak tahu diri, sudah diberikan segalanya tapi hanya untuk rokok saja perhitungan.
Padahal Demi Tuhan, sejak kami berpacaran sampai detik ini kami memiliki momongan, belum ada satupun kebutuhanku yang dipenuhinya, misal kukatakan aku minta baju a b c yang harganya tidak mahal pun, dia tidak menggubris. Dikatakan aku perhitungan, dikatakan tidak pengertian. Lelah sudah hati ini mengerti segala apa yang jadi perlakuannya.
Tekanan tekanan itu tak bersumber dari suamiku saja. Mertuaku terus menambah pikiran dengan minta dibelikan ini itu, tetap kupenuhi selagi aku punya uang. Tapi ketika aku tidak bisa memenuhi, ada saja omongan tidak mengenakan yang kuterima. Pernah tidak ditanya beberapa hari, tidak ditawari makan, dsb. Kalau bukan aku yang di posisi ini, mungkin kalian kalian sudah bunuh diri.
Hal terakhir yang ingin kucatat adalah, perlakuan mertuaku yang seolah olah ingin memisahkan aku dengan anakku. Sejak aku bekerja, aku hanya menyusui anakku di malam hari. Siang hari aku harus melihat anakku disusui susu sapi murni. Seringkali aku ikut merasakan dia tidak nyaman, dia ingin berontak dan ikut aku bekerja. Batinku sering menangis setiap menatap matanya untuk pergi. Hal itu masih kutahan demi memenuhi kebutuhannya. Tetapi makin kesini, anakku semakin dihandle oleh mertuaku, dia tidak boleh menyusu padaku, bahkan di malam hari. Bahkan suatu malam, anakku dilarang tidur denganku, supaya disiapkan susu sapi satu botol jaga jaga dia bangun di malam hari. HATIKU HANCUR BERKEPING KEPING UNTUK KESEKIAN KALI. Aku naik ke kamarku, mengunci pintu, menangis sekencang kencangnya. Suamiku mengetuk pintu dan meminta masuk. Kujelaskan alasanku menangis, dia malah menamparku dan memintaku berhenti menangis seperti itu, memalukan. Kukatakan aku sudah tidak nyaman dan tidak kuat hidup di sini bersama ibunya. Dia malah menjawab, kalau tidak nyaman sana pulang ke rumah, asal jangan bawa Dipa. Sekejam itu dia menanggapi ceritaku. Bukan lagi menenangkan aku sebagai isteri, sebagai ibu dari anaknya. Apa dia lupa lamanya aku mengandung anaknya, berjuang hidup dan mati untuk melahirkan anaknya, bisa bisanya dia sependapat dengan ibunya untuk membuat aku jauh dari anakku sendiri. Sampai di sini aku tak habis pikir. Aku lelah. Tapi aku akan tetap menulis. Sampai aku benar benar mati. Mencatatnya sampai benar benar tahu, siapa yang akan menang di cerita ini. Aku yang selesai, atau mereka.

Limpakuwus, 06 Mei 2020
16:47 PM

Obituari

Assalamu’alaikum wr wb

Saya Rodiyyatun Rukmini (25 th) menuliskan catatan ini sebelum kematian saya dikabarkan kepada banyak orang. Apa yang akan saya ceritakan adalah hal hal yang benar benar saya alami, dan menjadi sebuah alasan besar bagi saya untuk mengakhiri hidup.

Saya menikah dengan seorang anak Kepala Desa pada tanggal 31 Agustus 2018 dan telah dikaruniai seorang anak laki laki. Perjalanan yang begitu panjang, mengalami pahitnya mengandung dengan ketidakadaan orang tua sendiri, karena saya tinggal bersama orang orang yang hanya disebut sebagai keluarga (keluarga suami).

Pada awal pernikahan, semua berjalan indah selayaknya pasangan pengantin baru. Saya masih bekerja di sebuah perusahaan di kota saya sendiri dengan gaji cukup besar, sedangkan suami saya ketika itu sedang tidak bekerja karena baru saja dipecat dari kantornya. Kisah tragis itu dimulai sejak tiga bulan pernikahan saya, saya positif hamil, sebuah kabar yang seharusnya menjadi kabar paling membahagiakan bagi sebuah pasangan yang sudah menikah. Tapi tidak bagi keluarga suami saya. Mereka sama sekali tidak bahagia dengan kabar ini, karena melihat anaknya yang masih menganggur dan belum memiliki niatan untuk bekerja kembali. Mereka ketakutan akan hari hari dengan kebutuhan yang semakin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan saya. Ditambah lagi, karena saya hamil dan jarak kantor saya yang cukup jauh membuat fisik saya drop dan saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya. Jadilah saya dan suami sebagai pasangan yang sama sama tidak bekerja.

Bulan pertama kehamilan, saya merasa seluruh tubuh saya tidak berdaya, harus opname dan check up beberapa kali ke rumah sakit, sampai sampai dokter mengkhawatirkan kondisi anak di dalam kandungan saya karena saya tidak bisa makan dan minum apapun. Nutrisi ke dalam tubuh dialirkan lewat infus. Apapun bentuk makanan yang masuk pasti saya muntahkan. Penderitaan yang saya alami tidak hanya saya terima dalam bentuk fisik, saya juga dihantam ribuan kali cacian dari keluarga suami saya terutama ibu dari suami saya. Dikatakanlah saya menantu yang malas, tidak bisa masak, bangun siang, tidak meladeni suami, dan masih banyak lagi. Meskipun omongan itu diucapnya tidak di hadapan saya, tapi telinga saya selalu mendengar ketika ia mengutuk dan menyumpahi saya di belakang dengan orang orang yang sedang bertamu. Bahkan suatu hari ia menyalahkan kehamilan saya, kenapa saya harus hamil kalau kalian belum bisa cari uang sendiri. Barangkali ibu mertua saya takut hartanya akan habis sampai sampai menyalahkan pemberian Tuhan yang paling mulia yaitu anak. Pesakitan itu saya rasakan sampai usia kehamilan saya menginjak empat bulan.

Usia lima bulan kehamilan, saya merasa perubahan pola makan sudah sangat membaik, saya sudah bisa makan apapun meskipun dengan porsi yang tidak terlalu banyak selayaknya ibu hamil pada umumnya. Berat badan saya juga tidak naik secara signifikan. Karena fisik saya sudah membaik, saya merasa harus membuktikan bahwa saya adalah menantu yang bisa diandalkan. Saya memulai hari dengan bangun lebih awal, menyapu dan membereskan setiap keberantakan rumah, karena setiap malam selalu banyak tamu, jadi pagi hari rumah selalu dalam keadaan amburadul. Sejak awal saya sudah tahu bahwa keluarga suami saya adalah keluarga yang tidak menyukai kerapihan, berbanding terbalik dengan saya, jadi saya selalu membereskan apapun yang saya rasa berantakan sekalipun itu bukan barang barang milik saya. Selesai membereskan rumah saya mencucikan baju semua orang rumah, dengan mesin cuci yang selesai 1 jam dua puluh menit kurang lebih, selepasnya saya menyiapkan masakan untuk suami saya, siang hari mengangkat jemuran, melipatnya sampai memasukkan ke masing masing lemari pemiliknya. Pada awal rutinitas baru ini, saya merasa masih ikhlas melakukannya, tapi lama kelamaan, mereka semakin mengandalkan saya. Pembantu rumah tangga yang biasa datang ke rumah sudah tak pernah lagi muncul karena tidak dipanggil lagi oleh ibu mertua saya. Dalam hati saya mulai timbul perasaan apakah saya dijadikan pembantu penggantinya. Sebab tanpa pembantu, rumah ini sudah cukup rapi dan kebutuhannya terpenuhi. Kebiasaan itu berlangsung sampai saya mengandung anak saya sembilan bulan. Kondisi selama itu diiringi dengan isak tangis karena banyak hal, entah itu ulah suami yang sama sekali tidak ada niatan untuk mencari pekerjaan, setiap hari selalu tidur dan bangun siang sekitar jam 13.00 WIB. Hal itu membuat ibu mertua saya selalu menyalahkan saya, kali ini alasannya kenapa saya tidak juga membuat suami saya berubah. Seolah memburuknya kebiasaan suami saya adalah salah saya. Suami saya malas adalah karena saya. Suami saya tidak mau bekerja karena saya tidak bisa memberitahu, dan masih banyak hal. Siang hari saya lalui dengan lelahnya mengandung dan mengerjakan pekerjaan rumah yang tak kunjung usai, malam hari saya habiskan untuk menangisi keadaan suami dan perkataan ibu mertua saya yang sangat menyakitkan. Saya merasakan depresi selama kehamilan.

Tanggal 10 Juni 2019 saya memeriksakan kandungan ke Puskesmas, kenapa saya memilih Puskesmas karena di sana saya bisa pakai BPJS dan tidak memerlukan biaya banyak supaya tidak membebani suami dan keluarga mertua saya. Bidan Puskesmas merujuk saya ke rumah sakit karena bayi dalam kandungan saya harus sudah dilahirkan sesegera mungkin. Akhirnya tanggal 11 Juni pukul 01.10 WIB di RSIA Bunda Arif Purwokerto, anak pertama saya lahir ke dunia. Dengan perjuangan panjang dan sangat menyakitkan lahir dan batin.

Kehadiran anak pertama memberikan begitu banyak keriuhan bahagia di tengah keluarga suami saya. Cucu pertama dan laki laki, diharapkan akan menjadi generasi penerus yang baik kelak. Apalagi kelahirannya hampir berbarengan dengan keriuhan pemilihan kepala desa. Bapak mertuaku ikut pencalonan, meneruskan periode sebelumnya. Sudah hampir satu tahun belakangan rumah kami dipenuhi dengan tamu tamu dari seluruh penjuru desa. Bagi orang orang yang menyambut kami, mereka terlihat bahagia, tapi tidak bagi saya dan anak saya. Setiap hari anak saya yang baru lahir harus berbaur dengan kepulan asap rokok baik di lantai bawah maupun atas rumah kami. Siksaan berat bagi saya yang menyaksikan. Dia harus digendong dan dicium oleh sembarang orang, entah ia lepas memegang apa atau bahkan bajunya masih lekat dengan bau asap rokok. Psikologi saya masih belum stabil ketika itu, baby blues pasca melahirkan. Dikelilingi banyak orang yang tidak dikenal, melarang ini itu dengan nada bicara sok tau, saya dihakimi ketika melakukan kesalahan dalam parenting, saya dihujat, saya digunjing, dll. Baby blues itu tidak berakhir dalam dua bulan. Saya selalu menangis ketika menyusui anak saya, selalu menangis ketika mengingat ibu saya (ia hanya datang menengok dan menginap selama tiga hari, harus pulang untuk merawat ayah yang sakit). Saya semakin takut menyentuh anak saya sendiri.

Puncak kepedihan hati saya adalah ketika ibu mertua saya yang seharusnya menggantikan peran ibu kandung saya yang absen dari momen ini, ia justru paling menghakimi saya dalam hal apapun, karena saya tidak bisa menggendong anak saya, tidak bisa menidurkan, dll. Dalam lelah saya di siang hari mencuci begitu banyak pakaian bayi (suami saya hanya mencucikan pakaian anaknya selama tiga hari ketika jahitan saya masih basah), merawat anak, malam hari harus begadang karena bayi merah masing sering terbangun. Momen terpedih, suatu dini hari, karena saya merasa sangat lelah dan tidak ingin terlalu sering mengganti popok anak, sore hari saya memakaikan pampers kepada anak saya. Seperti biasa ia selalu terbangun dini hari, ibu mertua saya mendengar lalu mendatangi kamar saya bermaksud menenangkan bayi. Karena saya kelelahan, saya keluar kamar dan mengambil segelas teh manis hangat untuk meredakan sedikit lelah saya. Begitu masuk kamar, saya mendapati ibu mertua saya sedang melepas pampers anak saya dan seketika melemparkannya ke wajah saya, saya yang kaget sontak meletakkan gelas teh yang saya bawa, tidak bisa berkata kata, ibu mertua saya kemudian melihat pampers yang masih baru di tumpukan popok, diambilnya lalu dimasukkan ke dalam gelas minuman saya. Tanpa sepatah kata ia meninggalkan kamar saya. Saya menangis sejadi jadinya. Tangisan terpanjang dan tersakit sepanjang hidup yang saya alami. Orang yang paling menyakiti hati saya. Lukanya tidak akan kering bahkan sampai di akhirat nanti akan saya ingat benar. Dendam, amarah, berkecamuk di dalam hati saya.

Saya tidak merasa dilahirkan olehnya, tidak merasa dibesarkan olehnya, tidak juga disekolahkan olehnya, bisa bisanya dia menyakiti saya melebihi orang tua saya sendiri?

Air mata itu tidak berhenti mengalir, saya menangis sejak pukul 03.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Mata saya bengkak, wajah saya kelelahan, napas saya terengah engah. Saya terus terusan meminta dipulangkan ke rumah saya sendiri kepada suami. Tetapi dia tidak menggubris perasaan saya, apa yang saya alami seolah hal biasa baginya. Ia tidak mengerti bahwa saya benar benar akan membalaskan dendam saya dalam doa doa saya kepada ibunya.

Injakan injakan terhadap diri saya tidak berakhir di situ saja. Untuk sekelas omongan atau cacian sudah saya anggap biasa. Sekalipun setiap malam saya masih meratapinya dalam tangis sembari mengingat ibu saya sendiri. Setelah dukun bayi saya selesai merawat saya dan anak saya selama sepuluh hari, peran memandikan seharusnya digantikan oleh saya sebagai orang tua kandungnya. Supaya saya bisa terampil, berlatih setiap hari, mendekatkan diri dengan anak. Tetapi tidak begitu menurut ibu mertua saya. Dia telah meminta tolong kepada ‘uwa’ untuk memandikan anak saya karena tidak percaya sama sekali kepada saya. Dia takut saya akan mencelakai anak saya sendiri (pikiran gila macam apa ini?). Setiap hari uwa datang pukul 09.00 WIB, setiap itu pula peran saya serasa dilucuti. Saya hanya berhak memegang anak saya ketika ia tidur, selebihnya ditimang oleh uwa dan saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah selayaknya rutinitas ketika hamil dulu.

Hari demi hari saya lewati, sampai detik pemilihan kepala desa dilangsungkan, bapak mertua saya memenangkan pilkades dan melanjutkan satu periode lagi sebagai kepala desa.

Cobaan tragis datang lagi, satu bulan kemudian bapak mertua saya dilantik. Selama ini saya merasa benar benar menganggapnya sebagai bapak yang patut disegani, oleh sebab itu saya memohon mohon untuk bisa hadir dan menyaksikan pelantikan, tetapi suami saya melarang, dengan alasan usia bayiku baru satu bulan dan belum boleh dibawa pergi jauh. Saya merajuk terus, sampai emosi suami saya naik. Saya dipukul, didorong terkena ranjang, dijambak dan disumpah serapahi macam macam olehnya. Dikatakanlah saya tidak cukup bersyukur diberi hidup mewah, difasilitasi berbagai hal, mentas dari kemiskinan bersama keluarga saya sendiri, begitu katanya. Saya paham barangkali ia lelah karena tidak tidur sepanjang malam menantikan pelantikan ini. Tapi bagiku, emosi dan perkataannya itu menyulutkan satu pemikiran untuk pisah dengannya. Aku hanya bisa diam dan menangis.

Tiga bulan usia anak saya, dengan keadaan suami saya yang masih menganggur dan enggan mencari pekerjaan, ia masih menikmati bangun siang, dan meminta uang ‘amplop’ hasil orang orang yang menjenguk kelahiranku. Ibuku sering mengirim pesan bahwa kondisi ayah semakin memburuk, sebenarnya sudah sejak lama saya meminta untuk diantarkan pulang ke rumah, tapi suami dan keluarganya selalu melarang, tunggu sampai anak saya lima bulan baru boleh. Sampai pada titik itu, 22 Agustus 2019, sebuah hari yang kuanggap biasa saja sejak pagi, keanehannya hanya ketika saya selalu ingin mendandani anak saya dengan baju jalan jalan. Kabar itu datang sejak pagi, bahwa ayah sudah tiada, tapi pesan singkat keluarga baru kubaca sore hari, ketika suami saya pergi entah pamit kemana, seketika hati saya bergetar, tidak tahu apa yang harus diucapkan, dilakukan, saya menuruni tangga dan menyerahkan anak saya kepada ibu mertua saya, barulah air mata saya membanjir. Saya lemas bersimpuh hampir tak sadar diri, berbagai penyesalan langsung menancap dalam pikiran, wajah ayah yang bahkan belum kujumpai, anak saya yang belum sempat saya perkenalkan, permintaan maaf yang belum juga terucap dari mulut anak kurang ajar ini, Ayah.

Saya harus mencari tahu di mana suami saya karena pergi tanpa pamit. Setelah pulang, ternyata ia sedang bermain PS, di mana pikiran dewasanya, tapi sudahlah, pikiran saya sedang tertuju pada jalan pulang menemui duka kematian ayah. Pukul 16.00 WIB saya dan keluarga langsung menuju kota kelahiran saya, butuh waktu 2 jam karena menggunakan mobil, sesampainya di sana saya langsung memeluk ibu sesegukan. Malam hari ketika keluarga mertua hendak pulang, mereka meminta suami saya untuk tidak menginap. Padahal hati saya sedang berkabung dan sangat membutuhkan support system, tetapi mereka tidak memberikannya. Dengan berat hati saya mengiyakan Mereka. Jadilah saya menginap di rumah hanya dengan anak saya. Baru semalam menginap, sudah banyak pesan masuk minta anak saya untuk segera pulang, jangan terlalu lama di rumah, tanpa pernah mereka merasakan empati kehilangan seorang bapak. Hatiku semakin lebur, menyangka mereka bisa kuanggap sebagai keluarga, kenyataannya tidak. Karena mereka tak sedikitpun ikut merasakan kesedihanku.

Hari berikutnya suami saya datang lagi, ia berkata bahwa ia tidak pegang uang sama sekali. Ia bermaksud menyumbang sedikit untuk biaya tahlil kematian ayah, karena gengsi dan takut dibilang menantu tak tahu diri. Melihat kebingungannya aku kasihan, akhirnya kurelakan gelang yang sedang saya pakai untuk dijualnya sebagai uang pinjam yang akan diberikan pada ayah saya sendiri. Dalam hati saya pilu sekali, tapi saya menahannya, demi meredam emosi yang hanya akan merusak rasa berkabung saya terhadap kematian ayah. Ia juga berpesan bahwa saya hanya diberi waktu tiga hari untuk tinggal. Sudahlah, kupikir aku sudah terlalu banyak menangis. Aku hanya harus mengiyakan semua keinginan keluarga suami saya. Mengalah dalam duka yang teramat dalam.

Sampai detik ini, kepedihan saya yang tidak pernah dianggap sebagai anak di keluarga suami saya adalah kepahitan yang saya ingat dalam dalam. Sampai detik ini, usia anak saya menginjak delapan bulan, saya masih dilarang memandikan anak saya, mengajaknya ikut serta ketika aku pergi, semua hak atas anak saya adalah milik keluarga mertua saya, saya di sini tidak lebih dari seorang pembantu mereka.

Kepalsuan selalu dilakukan oleh mereka, ketika di depan banyak orang selalu dikatakan bahwa aku adalah orang yang seolah teramat mereka sayang, tetapi ketika ibu mertua saya berhadapan sendiri dengan saya, saya tak lebih dari seorang anak tiri yang tidak pantas bersanding dengan mereka. Sering kali saya memisahkan diri ketika makan, tidak pernah ikut berbaur ketika mereka sedang dalam obrolan, lalu di mana suami saya? Tentu saja ia ikut dalam bagian mereka. Hati saya perih sekali. Saya hanya ingin pergi meninggalkan lingkaran setan ini.

Perceraian selalu menjadi permintaan saya sejak peristiwa pemukulan itu. Saya tidak akan membawa serta apapun, tidak sedang meminta diberi harta apapun, saya hanya akan mengajak serta anak saya. Karena ia harta paling berharga saya. Tetapi permintaan itu tidak pernah disetujui alih alih demi menjaga nama baik mereka, yang selalu menutup nutupi aib keluarga karena mereka adalah keluarga abdi desa yang menjadi panutan.

Padahal sejak pernikahanpun, saya tidak pernah meminta apa apa. Momen pernikahan dilakukan hanya dengan ijab kabul dan mas kawin seadanya tanpa pesta meriah. Saya tidak pernah meminta dimanja, diperhatikan, atau dibelikan barang barang mewah. Saya hanya ingin dianggap sebagai manusia. Sebagaimana saya dilahirkan, dibesarkan, disekolahkan, oleh orang tua kandung saya.

Cerita ini saya akhiri, dengan masih menyingkap banyak peristiwa menyedihkan lainnya. Hal hal sepele yang mungkin menurut kalian tetap menyakitkan bagi manusia normal.

Pesan saya untuk kalian yang belum menikah, sayangilah kedua orang tua kalian, bahagiakan mereka sebelum kalian memiliki tanggungjawab baru ketika sudah menikah nanti.

Wassalamualaikum wr wb

Banyumas, 30 Januari 2020

Kepada : Nay.

Apa kabar hari ini?

Semoga harimu selalu dalam kebaikan. Masihkah mengenaliku? Aku yang dulu banyak bercerita tentang kekhawatiran. Kepadamu aku menyebut sebagai dokter pikiran, yang selalu tau diagnosa otakku sebelum aku mulai bercerita.

Malam ini aku benar benar sedang ingat tentangmu, tentang obrolan malam terakhir kita di Kopi Aceh. Aku yang masih dalam kekhawatiran, dua tahun silam.

Tahukah? Tidak ada yang berubah sedikitpun dari itu. Aku hanya beralih dari masa di mana aku takut menjalankan kekhawatiran, kemudian memberanikan diri hidup di dalamnya, sebab itu di titik ini, detik ini, aku benar benar memerankan kekhawatiran itu. Bagaimana ini, Nay?

Barangkali ketika itu kau masih memberi saran untuk tidak terus berjalan, saran yang seharusnya kuturuti. Nyatanya aku betul betul mengikuti rasa keingintahuanku. Aku mencoba membuat apa yang kau pikir menakutkan, menjadi apa yang kau pikir akan baik baik saja. Aku banyak meyakinkanmu ketika itu.

Dan aku, salah besar.

Pertemuan kemarin, kupikir kau akan banyak bertanya padaku. Sudahkah menyesal dengan pengambilan keputusanmu, Mbak?
Sebab di pikiranku, sudah kusiapkan seribu jawaban yang membuatku malu sendiri. Dua tahun aku dibayang bayangi kesalahanku sendiri, melanjutkan perjalanan yang parah.

Bagaimana ini, Nay?

Katamu lusa masih mungkin kita bertemu. Kurasa kita harus berkenalan ulang. Supaya aku leluasa mengulang cerita yang kuulang ulang. Supaya kau tak bosan mengulang saran. Supaya kita baik baik dalam lama percakapan.

Salam.

Satu Minggu Sepeninggal Bapak

Rasanya baru kemarin kau mengajariku bermimpi tinggi tinggi, agar tidak takut jatuh, buatlah sayap di punggung kanan kiri. “Satu satunya hal yang bisa merubah nasibmu adalah pendidikan, setinggi apapun status sosial kita di masyarakat, akan tetap lebih dijunjung tinggi mereka yang punya pendidikan. Jadi Nak, sepahit apapun jalanmu, tetaplah bersekolah sampai perguruan tinggi.” begitu katamu.

2017 aku sudah menyelesaikan mimpi itu Pak, dengan jerit tangisku sendiri, jauh dari Bapak, lupa menengok sakitmu, lupa menyapamu sesering mungkin di telepon.

2018 aku memulai mimpi baru Pak, sebuah pernikahan yang tidak bisa kau hadiri karena sakitmu.

2019 aku dikaruniai sebuah mimpi yang panjang Pak, seorang anak laki laki cerdas sepertimu, yang tak sempat kau peluk dan hapalkan namanya.

Al – Fatihah

Kabar Kesepian

Kemarin aku masih dalam manguku sendiri
Abai demi abai kulalui seperti tak akan pernah kudapati esok
Bertekuk lutut, berpaut tengkuk
Aku menyanyi mengabarkan obituariku
Rintih dalam amarah tak berbunyi, luruh air mata dalam cerita tak bersuara

Kemudian, seorang anak datang membawa tangis
Eleginya mengobati luka, bersaut di setiap sepertiga malam, menambal satu per satu lubang kesepian
Sampai pula aku di titik ini, di mana kata kata akan menjadi masa depan, tingkah laku akan menjadi guru
Entah siapa mengajari siapa, yang pasti aku belajar banyak dari ini
Piaraku akan kulakukan padanya
Indah dalam batin yang saling mengeja
Anakku, Dipayasa.

Mimpi

Kamis pagi aku terbangun dari tidur yang betul betul berkepanjangan. Kudapati diriku lusuh dalam balut selimut seadanya, anakku masih

“Bangun, waktu bermimpimu sudah habis!” katanya.
.
Aku membatin, sedalam apakah aku bermimpi tadi.
.
“Hei pagi, kurasa tidurku baru beberapa menit, mimpi mimpiku juga masih jauh dari ujud, aku baru sampai di penjajakan mimpi ketiga, yakni membuatkan Ayah Ibuku sebuah ayunan. Baru kupotong bilahnya, kau sudah memintaku bangun. Apa apaan!”
.
“Salahmu sendiri, kau menaiki anak tangga terlalu lama. Lena dalam setiap pijakannya. Apa perlu di setiap tanjakan kau menikmati pemandangan berlama lama? Tanggamu masih jauh, harusnya kau bisa bergesa sedikit.” Jawabnya.
.
“Nyatanya pemandangan hidup di setiap anak tangga itu sangat indah, selalu bikin lena, mana bisa aku asal lewat?”
.
Pagi diam saja tak menjawab meski hanya sepatah kata.
.
Sadarku kemudian, aku memang terlalu lamban, kurasa terlalu lama dalam setiap pijakan, membuat semua mimpi mimpiku kemudian putus begitu saja. Baru sampai membayangkan senyum Ayah Ibu, aku sudah dibangunkan.
.
“Jadi, bolehkah aku tidur lagi? Bisakah aku menjadi mimpi yang tak bangun bangun?” pintaku mengakhiri.

Banyumas, 08 Agustus 2019

Aku Mencarimu

Aku mencarimu di ujung halusinasi

Berharap Engkau masih ada bahkan di batas ketidakwarasan

Aku mencarimu di bising pertemuan hujan dan beranda

Berharap Engkau bisa kudapati di setiap selanya

Jalan-jalan yang kulewati kini berbeda

Tidak ada Engkau di setiap markanya

Atau bahkan wangi tengkuk yang sering kupeluk

Aku juga mencarimu di ramai kesibukan

Berharap Engkau seketika datang untuk sekedar memeluk aku yang kelelahan

 

Purbalingga, 17 Februari 2018

Dalam istirahat.

Langit

Langit belakangan seriak dengan obituari. Ia banyak mendung dan menyimpan sedih di dalam hujan. Wajahnya digambar lewat rupa rupa awan kelabu yang berjejeran. Ketika lelah menanggung beban, maka tumpahlah menjadi rintik sampai ke tanah jauhnya. Aku yakin ia sedang tidak baik baik saja. Atau barangkali dukanya diam diam ia simpan dan semayamkan pada bulan bulan ini. Agar pada bulan bulan berikutnya ia bisa bersinar dalam kemarau panjang. Ah, penciptanya begitu agung. Menjadikannya menangis sampai kering air matanya. Menjanjikannya rupa rupa ceria setelahnya. Kemarin ketika aku berkunjung di balkon kamar, kutatap dalam dalam wajah pasinya. Ia menyunggingkan senyum sedikit, dikatakannya bahwa ia baik baik saja. Hanya agak sedikit berat membawa hujan kemana mana dan harus menunggu sore untuk ditumpahkan.

Andai jadi engkau, barangkali aku sudah gantung diri.