Mimpi

Kamis pagi aku terbangun dari tidur yang betul betul berkepanjangan. Kudapati diriku lusuh dalam balut selimut seadanya, anakku masih

“Bangun, waktu bermimpimu sudah habis!” katanya.
.
Aku membatin, sedalam apakah aku bermimpi tadi.
.
“Hei pagi, kurasa tidurku baru beberapa menit, mimpi mimpiku juga masih jauh dari ujud, aku baru sampai di penjajakan mimpi ketiga, yakni membuatkan Ayah Ibuku sebuah ayunan. Baru kupotong bilahnya, kau sudah memintaku bangun. Apa apaan!”
.
“Salahmu sendiri, kau menaiki anak tangga terlalu lama. Lena dalam setiap pijakannya. Apa perlu di setiap tanjakan kau menikmati pemandangan berlama lama? Tanggamu masih jauh, harusnya kau bisa bergesa sedikit.” Jawabnya.
.
“Nyatanya pemandangan hidup di setiap anak tangga itu sangat indah, selalu bikin lena, mana bisa aku asal lewat?”
.
Pagi diam saja tak menjawab meski hanya sepatah kata.
.
Sadarku kemudian, aku memang terlalu lamban, kurasa terlalu lama dalam setiap pijakan, membuat semua mimpi mimpiku kemudian putus begitu saja. Baru sampai membayangkan senyum Ayah Ibu, aku sudah dibangunkan.
.
“Jadi, bolehkah aku tidur lagi? Bisakah aku menjadi mimpi yang tak bangun bangun?” pintaku mengakhiri.

Banyumas, 08 Agustus 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s