Sabrina Menari

Pada sore menjelang malam, ketika hari sudah hampir selesai dalam hitung hitungannya tentang memberi sinar, Sabrina menari.

Susur jalan yang kabur dan pandang mata bilur menjadi pelengkap. Nyawanya masih menyadar diri tentang salah laku berkali kali. Bata bata bangunan yang ia tumpuk sendiri seketika jadi puing sebab tariannya. Ia hancurkan sejadi jadinya. Sampai lupa tawa di instumen pengiring, sampai tak ingat jari jari kakinya mulai berdarah. Bangunan kokoh yang ia dirikan sendiri seketika jadi puing sebab tariannya.

Sampai lupa di mana ia. Sabrina menangis sejadi jadinya. Sampai tak ingat di mana ia. Sabrina hanya ingin instrumen pengiring berhenti berbunyi. Sampai lupa ia harus menari. Sabrina hanya ingin berhenti menari. Biar ditumpuknya bata bata bangunan kembali. Biar ia tak menjadikannya hancur lebih lagi.

Purwokerto, 03 Agustus 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s