(Judulnya)

Nafasku sengal di ujung

Urung dari sebuah kematian

Ramah tamah yang kian jauh

Urung dari sebuah keikhlasan

Lupa pula menyapa Tuhan

Waktu malam dalam semayam kekasihan

Impi yang kian menjadi jadi

Dungu yang makin tak kenal sesiapa

Ingat pasal doa dan dosa

Adakah tempat pulang

Nama nama yang kulupa abjadnya

Tua kian pikir dan mata batin

Onanilah mereka semua dalam sepertiga malam terakhir

Purwokerto, 21 Agustus 2017

Advertisements

Sabrina Menari

Pada sore menjelang malam, ketika hari sudah hampir selesai dalam hitung hitungannya tentang memberi sinar, Sabrina menari.

Susur jalan yang kabur dan pandang mata bilur menjadi pelengkap. Nyawanya masih menyadar diri tentang salah laku berkali kali. Bata bata bangunan yang ia tumpuk sendiri seketika jadi puing sebab tariannya. Ia hancurkan sejadi jadinya. Sampai lupa tawa di instumen pengiring, sampai tak ingat jari jari kakinya mulai berdarah. Bangunan kokoh yang ia dirikan sendiri seketika jadi puing sebab tariannya.

Sampai lupa di mana ia. Sabrina menangis sejadi jadinya. Sampai tak ingat di mana ia. Sabrina hanya ingin instrumen pengiring berhenti berbunyi. Sampai lupa ia harus menari. Sabrina hanya ingin berhenti menari. Biar ditumpuknya bata bata bangunan kembali. Biar ia tak menjadikannya hancur lebih lagi.

Purwokerto, 03 Agustus 2017