​Rini, Amir dan Taman Hiburan 3

“Rini! Lekaskanlah jalanmu. Sebentar lagi hujan. Kita berteduh di bawah bangunan mirip halte itu saja.” Ucap Amir.
Rini tidak mengindahkan panggilan Amir. Ia malah berjalan berputar putar menikmati air yang satu persatu menjatuhkan diri dari awan.

“Amir! Kemari! Kau harus mensyukuri ini semua.” Teriak Rini.

“Kau bercanda! Kita sedang di taman hiburan, seharusnya pulang membawa senang, bukan membawa sakit. Lekas kemari! Jangan hujan hujanan seperti itu.”

“Kau ini bagaimana, Mir.” Jawab Rini seraya berjalan mendekati Amir yang sudah sampai di bawah bangunan mirip halte.

“Aku kan cuma hujan hujanan. Apa pula yang bikin sakit? Air hujan cuma air, kita mandi pakai air, bahkan dua kali sehari, ini aku hujan hujanan baru sekali, masa iya akan jatuh sakit?”

“Kau sedang lelah, Rin! Hari ini kita mengitari taman hiburan. Berjalan kaki pula.” Bantah Amir.

“Setiap hari aku berjalan kaki ketika pulang sekolah, dalam terik, denganmu pula kan? Lalu apa sampai di rumah Ibumu tak menyuruhmu segera mandi? Lagi lagi kau aneh, Mir!”

“Rin, air hujan dan air di kamar mandi itu beda!”

“Di mana bedanya? Coba jelaskan padaku.” 

“Halah, sudahlah!” Jawab Amir ketus sambil mendiamkan diri.

“Mir, kawan karibku, air hujan dan air kamar mandi sama sama air dari Tuhan bukan? Mandi air kamar mandi adalah ujud mensyukuri nikmat dariNya, kita berusaha memelihara kebersihan badan, pun sama dengan hujan hujanan. Betulkan? Manusia jaman kita lebih sering memelihara percuma, Mir.”

“Maksudmu?”

“Tuhan mencipta hujan, manusia mencipta payung dan jas. Tuhan mencipta matahari, perempuan perempuan memakai sunblock. Tuhan mencipta malam, manusia mencipta lampu. Tuhan mencipta aku, engkau mencipta kebencian. Hehehe..” Ucap Rini sambil menggoda Amir.

Amir menarik napas panjang.

Bersambung.

Advertisements

​Rini, Amir dan Taman Hiburan 2

Berjalanlah Amir menyusul Rini yang sedari jingkrakan di jalan jalan sempit sebab ramai pengunjung taman hiburan. Berhentilah mereka di sebuah gerobak jingga bertulis Arumanis. Gambar gambar pemikat mata menempel pada sisi sisi gerobak. Sebuah umpatan kecil disunggingkan di pojok kanan atas, berbunyi “Arumanis bikin harimu jadi manis”. Aku geli membaca sesuatu yang barangkali menjadi slogan kebanggaan si penjual arumanis.

“Menurut hematku, slogan itu mengejek hidup kita, Mir!” Celetukku.

“Bagian mana yang kau anggap mengejek?”

“Ya keseluruhan slogannya. Di taman hiburan barangkali kesemua pengunjungnya sudah menikmati kemanisan, pada hari itu juga. Arumanis datang sebagai pemanis yang notabene hadir pada sesuatu yang dikata belum atau tidak manis. Sampai di sini paham kau Mir?”

“Diterima. Lalu?”

“Ketika slogan itu mengatakan Arumanis bikin hari kalian jadi manis, artinya kita mengalami hari yang pahit, sekarang atau katakanlah sebelum memakan arumanis itu. Lalu apa fungsi taman hiburan ini? Betulkah kunjungan kita di tempat ini untuk diberi hari yang pahit?”

“Rini! Itu kan slogan saja. Semua penjual pasti ingin melariskan dagangannya.”

“Iya, betul perkara itu. Tapi kalau aku jadi pengelola taman hiburan ini, akan kuminta ia ganti slogan menjadi, Arumanis! Ayo beli, dan bikin hidup saya manis! Bukankah itu lebih jujur?”

“Hahaha. Baiklah, aku mengamini saja keinginanmu itu Rin.” Timpal Amir.

“Kau jadi beli arumanis?” 

“Tentu, setidaknya aku ingin membagi kemanisan hariku dengan penjual arumanis itu.”

Rini terkekeh sendiri.

Bersambung.

​Rini, Amir dan Taman Hiburan

Libur panjang semester ini, Rini dan kawan baiknya, Amir pergi mengunjungi sebuah taman hiburan. Mereka sudah merencanakan hal tersebut sejak seminggu lalu ketika masih bersekolah. Rini dan Amir membutuhkan uang  masing masing sebesar tujuh puluh lima ribu rupiah guna membayar tiket masuk taman hiburan. Pada langkah-langkah pertama mereka, Rini dan Amir mendapati wajah-wajah bahagia bocah-bocah yang sedang bermain komedi putar, orang tua mereka setia menunggu anak-anaknya di pinggir wahana tersebut. Terlihat sepasang orang tua melambaikan tangan seraya melempar senyum kepada anak perempuannya yang tak kalah bahagia di atas tunggangan komedi putar.

“Senangnya bocah itu! Ayah Ibunya pasti memberi kasih sayang penuh baginya.” Ucap Amir.

“Pendapatmu terlalu dangkal, Mir!” Jawab Rini.

“Kenapa memang?”

“Kau lihat kedua tangan Bapak dan Ibu itu, masing masing tidak saling bergandeng, genggam erat tangan mereka jatuh kepada gadget yang rutin dilirik ketika anaknya sedang tidak menatap kepada mereka, atau ketika komedi putar membawa perangai anak mereka di balik pandang tiang.”

“Jadi kesimpulanmu?”

“Bocah itu rutin dipelihara oleh pembantunya, sekalipun ia tersenyum dan melambaikan tangan, arah pandangannya lebih tertuju pada ibu paruh baya dengan pakaian perawat anak anak yang  sedang memegang pagar komedi putar. Kau lihat?”

“Kau tidak salah.” Jawab Amir.

“Cinta mereka kepasa anak hanya berbayar tujuh puluh lima ribu rupiah.”

“Baiklah, simpulanmu cukup logis. Mari kita beranjak kepada wahana berikutnya.” Ajak Amir.

Bersambung.

Telanjang

Lakuku kering tak berujung. Menikmat senja di ambang pilu. Sendirian. Barangkali celoteh di sekitar tak sefrekuensi dengan pendengaranku. Jadilah aku tuli karenanya. Dungu sebab tak kutik sedikitpun. Geming bibir hanya seputar cari carian pasal Tuhan. Membenarkan diri bahwa diri ini benar. Mereka mereka berlaku sebagai hakim. Sedang diriku adalah terdakwa. Jaksa penuntut umum adalah beberapa yang sering mengaku sebagai kawan dekat. Aku dihakimi habis habisan. Bahwa aku tak beragama. Bahwa aku tak bisa diindahkan dalam satu atau semua agama. Kemudian di mana letak pintu keluar pengadilan? Bolehkah aku keluar sebentar? Barang mencari angin atau sua dengan pohon yang seringkali kuajak berdoa.

Kemudian hakim tak mengindahkan permintaanku. Aku dimintanya duduk pada kursi peradilan yang tak nyaman sama sekali. Pantatku gigil, tubuhku remah, jantungku batu.

“Kuberi kau dosa atas apa yang kau pilih. Ketelanjanganmu setiap hari mempermalukan umat. Jika masih ingin berpakaian, kembalilah, akan diberikan selusin baju dengan kain berenda untukmu. Kemudian apa yang menjadi sulit?”

“Yang Mulia Hakim Peradilan, tubuhku adalah kebaikanku sendiri, salah satu ujud dari doa baik orang tuaku, sebagaimana apikpun pakaian berenda yang Engkau tawarkan, aku akan tetap memilih untuk telanjang. Sebab ketelanjanganku adalah hasil pikirku sendiri. Aku mencari jalan menuju lemari pakaianku sendiri. Aku tidak pernah mengemis air putih barang seteguk kepada orang di sekitar, aku berjalan dengan tapakku sendiri, aku tidak pernah meminta digendong barang selangkah kepada orang di sekitar. Bajingan keadaan. Kalian menghakimi aku seolah aku adalah pencuri celana dalam. Kalian menghakimi aku seolah aku kucing penggondol ikan di meja makan. Biar aku mencari jalan menuju lemari pakaianku sendiri. Sampai itu ditemukan, maka biarkan aku telanjang!”

Peradilan diusaikan.