Sebuah Wajah Baru

Setubuh malam tiba tiba datang mengetuk pintu kamar. Aku yang sedari tadi lelap seketika ranjak.

“Aku datang membawa sebuah wajah, yang di antara ujudnya belum pernah kau dapati sebelumnya.” Ucapnya.

“Iyakah? Maka kemari duduk di sini. Aku siap menjamu dengan sebaik baiknya. Wajah mana yang akan kau berikan padaku kali ini?” Tanyaku.

“Sebuah wajah yang merona baik. Ia sering datang dalam kelakar kawan kawanmu. Ia sering mampir di ingatan seketikamu. Ia sering ada di bersit doa doamu. Ketika tiga puluh lima hari kemarin.” Jelasnya.

“Lalu bisakah ia dikata sebuah wajah baru?”

“Tentu.”

“Bukankah aku sudah melihat wajah itu sejak sebulan lalu.”

“Tapi engkau baru berani menyetubuhinya lepas pergi dari tempat itu bukan?”

“Sebab aku malu.”

“Tapi ingin?”

“Barangkali.”
Dialog seketika terputus ketika 00.01 menyambangi jam dinding.

Advertisements

Di Batas Alegori

Wajah wajah mendapatiku di antara majas

Pra hingga pasca pasrah di ambang batas

Mata mata itu menuduh lusuh

Bahwasanya alegori tak bisa lagi menjadi tempat mengumpat
Aku

Tinggal

Di batas alegori
Laku laku itu menelanjangiku di antara pantas

Qobla hingga ba’da lelah di ambang nafas

Pandang pandang itu mencerca penuh

Bahwasanya alegori tak lagi kuat menyimpan ketidakwarasan
Aku

Tanggal

Di batas alegori
Yang mana aku semayam dulu

Yang mana aku merajam dulu

Yang mana aku mengkhatam dulu

Yang mana aku diam dulu
Aku

Terpenggal

Di batas alegori