Feminis Radikal (2)

Feminis radikal yang belakangan dianggap sebagai sebuah paham oleh mayoritas penduduk bumi, banyak diterapkan oleh perempuan perempuan modern. Dasar pengembangan paham feminis radikal adalah kesalah artian dari perlawanan Kartini selaku perempuan yang enggan ditindas, atau lebih familiar dengan istilah emansipasi wanita. Tetapi beriringan dengan perkembangan zaman, ajaran yang dibawa oleh Kartini disalah artikan secara berlebihan. Terutama oleh perempuan yang secara langsung teribat sebagai tokoh utama dalam hal ini. Tidak ada yang bisa disalahkan dengan kesalah artian dari emansipasi wanita, sebab transisi kehidupan dari tradisional menjadi modern sangat memungkinkan untuk mengubah manusia dari segi pola pikir. Kemajuan teknologi tentu membuat manusia harus berjalan selaras, budaya konsumtif cenderung meningkat, konsumsi teknologi berlebihan, instannya, manusia akan berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya. Ya, uang, yang notabene merupakan alat tukar resmi di dunia. Budaya selama ini menjelaskan bahwa seharusnya laki-laki yang dominan dalam hal mencari pemasukan guna memenuhi kebutuhan wanita, ketika kita membicarakan pasangan laki laki dan perempuan tentunya. Namun belakangan, kesalah artian emansipasi juga merambah dunia kerja. Tenaga kerja laki laki dan perempuan disetarakan. Atau bahkan lebih banyak rekuirmasi tenaga kerja perempuan dibandingkan laki laki. Ini yang kemudian menjadi pemantik pola pikir perempuan modern bahwa perempuan mampu berdiri setara dengan laki laki, independen, istilahnya. Pola pikir tersebut kemudian menjadi berbahaya ketika sudah mencapai anut menganut paham feminis radikal.

Advertisements