Feminis Radikal (1)

Independensi di dalam diri perempuan adalah sesuatu yang mutlak dimiliki. Terutama bagi mereka yang mengaku sebagai feminis radikal. Feminis radikal diartikan sebagai salah satu gaya hidup yang memilih untuk tidak melakukan kebiasaan yang dilakukan oleh feminis itu sendiri yakni perempuan. Selama ini jalan hidup perempuan dipersingkat oleh kebanyakan orang menjadi tiga tahap yakni menjadi anak, menjadi isteri dan menjadi ibu. Generalisasi tersebut masih dianut oleh banyak perempuan di dunia. Buktinya penduduk Indonesia masih dalam fluktuasi positif. Perempuan perempuan mudanya lebih suka menikah, “suka”.

Ada feminis yang memang enggan menyepakati generalisasi hidup perempuan tersebut. Mereka mereka yang cenderung lebih suka hidup mandiri, tidak ingin membentuk sebuah komitmen dengan siapapun, menjalani hidup dengan independensi. Feminis radikal banyak dianut oleh perempuan modern.

Advertisements

Lupa Jalan Pulang

Aku lupa jalan pulang

Dalam hendak yang seenak

Kakiku mangkir dari peta yang sebenarnya

 

Aku lupa jalan pulang

Arah mata angin berubah halu

Mataku mangkir dari pandang yang sebenarnya

 

Aku lupa jalan pulang

Petanya basah disapu ombak

Letak selat ibu hilang

Letak pulau ayah tak terlihat jelas

Letak danau kakak robek

 

Aku lupa jalan pulang

Arloji Marsinah

29 Februari 1993

Jarum penunjuk angkaku memulai rutinitasnya. Tubuhku masih memeluk erat tangan kiri pemilikku. Yang kurasa masih dalam kegiatan sehari-harinya menjadi buruh pabrik arloji, sebutan yang sering kudengar untuk mereka yang merakit logam-logam kecil untuk menciptakan aku dan teman-teman serupaku. Riuh rendah suara sekrip dan sekoci bersatu padu mencipta suasana siang hari yang ramai. Khas keramaian pabrik arloji di tengah kota. Aku sedikit kepanasan sebetulnya, kurasa para buruh juga merasakan hal serupa, jelas saja, keringat-keringat mereka hanya diangini oleh sebuah kipas putih yang berputar seadanya, putaran yang  disertai bunyi-bunyian unik dari tubuh kipas angin seolah ingin lepas dari tempat ia menggantung. Kudapati sebuah wajah. Lusuh. Ia seperti melamunkan sesuatu. Aku merasakan denyut nadi di tangan kirinya meningkat. Kemudian ia berhenti berkutat dengan sekrip dan sekoci, ia menggerakkan tangan membetulkan tanda nama di dada kirinya yang bertuliskan Marsinah. Ia Marsinah, pemilikku. Yang pagi hari tadi hanya mengecap teh manis sekadar melumasi tenggorokannya yang kering. Sebetulnya aku enggan membangunkannya terlalu pagi, tapi ketika jarumku menunjuk angka tujuh, tubuh Marsinah sudah lengkap dengan seragamnya. Segaram buruh pabrik kebanggaannya, yang dipadukan dengan rok beraksen bunga-bunga. Rambutnya yang mengembang dibiarkan terurai, meski ia tahu bahwa itu akan membuatnya kepanasan di siang hari.

Ramai pabrik arloji dibumbui dengan ceracau para buruh pabrik dengan cerita sehari-harinya. Sebagian buruh pabrik arloji adalah perempuan, tak heran nyanyian dari mulut-mulut perempuan saling bersahutan. Entah itu sekadar untuk mengomentari mahalnya harga sembako atau menceritakan kebiasaan buruk dari buruh pabrik lain. Sayangnya Marsinah enggan terlibat dengan dialog semacam itu, ia lebih suka menggamit sekrip dan sekocinya agar target produksinya tercapai. Sebab semakin tinggi produksi yang dicapai oleh buruh pabrik maka semakin tinggi bonus yang akan diberikan perusahaan setiap bulannya. Tapi siang ini Marsinah nampak lain, gugupnya masih belum hilang sedari tadi.

“Surti, kau sudah dengar berita di radio?” pertanyaan Marsinah menghentikan gerutu Surti yang sedang mengeluh kepanasan.

“Berita soal apa?”

“Surat edaran yang dikeluarkan gubernur, tentang himbauan kepada perusahaan untuk menaikkan kesejahteraan karyawan.”

“Belum. Coba jelaskan, sepertinya menarik.”

“Semua perusahaan di Jawa Timur dihimbau untuk memberikan kenaikan gaji sebesar 20% dari gaji pokok.”

“Benarkah? Perusahaan kita tentu demikian kan? Berita menggembirakan ini, aku jadi bisa menambah modal perkawinanku dengan Mas Suratman.”

“Seharusnya perusahaan kita sudah mengindahkan surat edaran ini sejak keluarnya gaji kita bulan ini. Tapi kau lihat, gaji kita tanggal sepuluh kemarin masih Rp 1700, sama dengan bulan sebelumnya. Ini sudah melanggar aturan namanya.”

“Benar juga! Lalu sebaiknya bagaimana?”

***

4 Mei 1993

Jarum penunjuk angkaku berada di angka satu. Aku masih memeluk erat tangan kiri Marsinah yang mulai dibasahi keringat. Tangan kanannya memegang ujung spanduk yang ujung lainnya dipegang oleh buruh lainnya. Spanduk putih dengan coretan berwarna merah darah. Mataku tak bisa langsung membaca tulisan di spanduk itu sebab Marsinah terus-terusan menggerakkan tangan kirinya yang dikepalkan. Jadilah aku terombang-ambing dalam gerak-gerik Marsinah siang itu. Tapi perlahan bisa kubaca tulisan merah darah berbunyi “BERIKAN HAK KAMI!” dibumbui dengan ratusan tanda tangan yang kurasa berasal dari seluruh buruh pabrik yang berdiri di belakang Marsinah. Mereka juga terlihat ikut-ikutan berteriak lantang, meneriakkan apa yang tertulis di spanduk.

Rupanya dialog singkat Marsinah dengan Surti beberapa hari yang lalu melahirkan jajak pendapat pada buruh dengan keresahan serupa, mereka merencanakan melakukan demonstrasi guna menuntut kenaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp 2250 sesuai dengan edaran yang telah dikeluarkan gubernur di awal tahun.

“Marsinah! Bagaimana ini, muka muka petinggi perusahaan tak terlihat sama sekali. Kita tak didengar.” Bisik Trisno di telinga Marsinah.

“Mereka mendengar. Aku yakin mereka mendengar. Telinga mereka hanya sedang disumpal dengan kapas mayit. Mulut mereka hanya sedang pura-pura dibungkam dengan kain pel. Kita selesaikan unjuk rasa hari ini. Setidaknya sampai matahari sore datang.”

Memang benar, siang itu hanya terlihat wajah Suwono, satpam pabrik arloji yang mondar mandir dengan sikap siaga. Wajah gelapnya mengkilap sebab tak luput dari paparan sinar matahari.

Jarum penunjuk angkaku berada di angka empat. Kulihat wajah Marsinah mulai pucat, denyut nadinya masih bisa kurasakan jelas, nafasnya ngos-ngosan. Ia meninggalkan halaman pabrik.

***

5 Mei 1993

Jarum penunjuk angkaku berada di angka delapan. Malam hari yang begitu lengang. Marsinah masih membiarkan aku menggelayut di tangan kirinya. Denyut nadinya terasa tak beraturan. Matanya menyeruakkan amarah, sekalipun ia mampu meredam dengan beberapa kali menyesap teh manis kesukaannya. Pikirannya mengebulkan asap, otaknya seperti mesin yang kelelahan. Tentu saja! Marsinah tak bisa diam begitu saja setelah siang hari tadi mendapat kabar bahwa tiga belas rekan buruhnya, termasuk Surti dan Trisno,dianggap menjadi provokator unjuk rasa dan dipaksa mengundurkan diri dari pabrik. Malam ini juga ia bermaksud mendatangi Kodim Sidoarjo. Dibawanya tas selempang kecil, kemudian ia bergegas meninggalkan rumah kontrakannya. Sedang aku, masih setia menggelayut manja di tangan kiri Marsinah.

Jarum penunjuk angkaku berada di angka sepuluh. Mataku tak bisa melihat jelas, aku hanya bisa merasakan ayunan tangan Marsinah yang seperti sedang berjalan cepat. Nafasnya memburu sesuatu, ia seperti ingin cepat sampai. Jarak rumah kontrakannya dengan Kodim memang cukup jauh. Tapi ia seolah tak perduli lagi, jarak berkilo itu ia siasati dengan berjalan kaki. Kulihat matanya melirik diriku, kemudian raut wajahnya semakin panik. Ia mempercepat ayunan tangan dan kakinya. Sepatu fantofelnya beradu dengan aspal, mengeluarkan irama yang nyaring.

Dalam langkah Marsinah yang tergesa. Aku mendapati sorot cahaya mobil dari arah belakang. Tepat mencahayai mataku dan tubuh Marsinah dalam balut pakaian putihnya. Seseorang keluar dengan gerakan cepat menuju Marsinah. Aku melihat sebuah karung berwarna hitam dibuka dan diarahkan ke kepala Marsinah. Marsinah yang enggan menengok seketika buta. Aku semakin memeluk erat tangan kiri Marsinah yang mulai memukuli seseorang tadi. Tapi sia sia. Sebab hantaman di tengkuknya menjatuhkan Marsinah seketika. Ia jatuh.

***

7 Mei 1993

Jarum penunjuk angkaku berada di angka dua. Dini hari. Aku membuka mata. Aku merasa ada yang berbeda dengan tubuhku. Mataku tak bisa melihat jelas, pandanganku terhalang oleh kaca arlojiku yang retak. Dan lagi! Aku merasa ringan diri, kedua tanganku terlepas. Aku tidak lagi sedang memeluk tangan kiri Marsinah. Marsinah! Di mana pemilikku. Aku mengitarkan pandanganku, hanya kudapati ruang kosong, sempit, pengap juga remang. Pandanganku semakin tak jelas saja. Tuhan! Kumohon berikan aku sebuah mulut agar aku bisa berteriak, atau setidaknya memanggil nama pemilikku, Marsinah. Masih coba kukitarkan pandang, sekalipun buram. Nihil. Tak kudapati apapun.

“Surti, Trisno.. Tolong!” sebuah suara parau menghampiri telingaku. Suaranya tepat dari kolong meja di dekatku. Itu suara Marsinah! Aku hapal benar, oh Marsinah. Engkau kesakitankah di bawah sana.

“Berhenti minta tolong! Percuma!” suara hentak datang dari sudut lain. Kedatangan suara itu diiringi langkah kaki yang mantap. Cahaya ruangan yang tadinya remang menjadi terang, sebab seseorang tadi menyalakan saklar lampu di dekat pintu. Pandanganku sedikit lebih baik sekarang. Oh tidak! Aku mendapati Marsinah terkulai lemas di lantai, dengan pakaian yang robek serta darah kering di pelipisnya. Matanya terkatup sedang mulutnya terbuka meracau nama-nama rekan buruhnya. Pakaian putihnya tak lagi putih sebab lantai tanah telah mengotorinya. Aksen bunga di roknya tak lagi utuh, robek di sana-sini. Uluh hatiku berteriak kencang, ingin rasanya seketika menjelma manusia agar bisa membopong Marsinah keluar dari tempat pengap ini.

“Kau ini buruh! Tak perlulah banyak bicara! Masih untung perusahaan memberimu pekerjaan dan menggajimu. Kalau tidak mau jadi apa kau!” suara itu diakhiri dengan tendangan di bahu Marsinah. Marsinah hanya meringkuk kesakitan. Dikatupkannya kedua tangan Marsinah memeluk pinggang, ia menahan dingin.

Seseorang penuh amarah tadi meninggalkan ruangan.

***

8 Mei 1993

“Eksekusi hari ini! Lakukan dengan bersih!”

“Baik, Bu!”

Jarum penunjuk angkaku berada di angka 9. Pagi hari yang seharusnya kuhabiskan bersama wajah penuh semangat Marsinah di meja kerjanya. Pagi hari yang seharusnya kuhabiskan dengan menikmati paduan suara sekrip dan sekoci. Kali ini telingaku mendengar dialog tak mengenakan yang berasal dari ambang pintu. Suara seorang perempuan dan lelaki. Aku tak kuasa menatap Marsinah yang masih dalam eleginya. Rintihannya tak berhenti sedikitpun memanggil rekan buruhnya. Ia masih memikirkan Surti, Trisno dan rekan lainnya yang diberhentikan dari perusahaan secara tidak adil. Mereka hanya menuntut hak. Mereka hanya merindukan keadilan. Adil? Aku tertawa di dalam hati. Inikah keadilan untuk Marsinah?

“Matilah kau!” umpatan itu disertai pukulan bertubi di dada Marsinah. Besi tumpul itu menghantam tubuh Marsinah yang sudah hampir kehilangan kesadaran. Air mata sakitnya mengucur deras membasahi tanah. Pakaiannya semakin coklat. Darah merembes dari sela-sela giginya. Marsinah meringis kesakitan. Ia masih merapal nama-nama rekan buruhnya.

“Surti.. Trisno..”

“Kami hanya minta hak kami..”

“Berikan hak kami..”

Suara-suara parau itu perlahan menghilang. Aku tak kuasa lagi menatap Marsinah. Jika aku masih memeluk tangan kirinya pasti aku akan tahu sampai di mana denyut nadi Marsinah. Aku tak bisa berhenti mencaci diriku sendiri. Andai aku dapat menjelma manusia. Ijinkan aku menggendong Marsinah keluar dari ruangan ini. Marsinah hening. Matanya tertutup sedang mulutnya terbuka. Aku masih berada di atas tanah. Seseorang meraihku dan memasukkan aku ke dalam sakunya.

Jarum penunjuk angkaku berada di angka tiga. Sore hari dalam balutan langit yang meremang. Kubuka mataku. Aku mendapati wajah-wajah keheranan. Memandangi aku. Lalu di mana aku? Kukitarkan pandang, kudapati rimbun pepohonan. Aku berada di atas kulit yang dingin. Tak kurasakan denyut nadi padanya. Oh tidak! Ini kulit tangan Marsinah. Pucat pasi seperti tak lagi dialiri darah. Aku mencari wajah Marsinah. Matanya tertutup sedang mulutnya terbuka. Aku menangis sejadi-jadinya. Wajah-wajah keheranan di hadapanku sedang memandangi aku dan mayit Marsinah.

***

Andai Aku Bisa Menjelma Manusia

Akan kugendong Marsinah keluar dari ruangan ini

Lalu membersihkan luka luka di sekujur tubuhnya

Mencuci pakaiannya agar kembali menjadi putih

Menjahit roknya agar aksen bunganya utuh

 

Andai Aku Bisa Menjelma Manusia

Akan kugendong Marsinah keluar dari ruangan ini

Lalu kumaki lelaki dengan lengan besi itu

Dan kusumpal mulut-mulut petinggi pabrik dengan kain pel

Dan mencongkel telinga-telinga yang berpura-pura tuli

 

Marsinah! Engkau hanya bermaksud merebus kata bukan?

SELESAI

*Diadaptasi dari kasus kematian Marsinah, buruh pabrik PT. Catur Putera Perkasa pada tahun 1993.