KOPI HITAM

”Diantara kesyahduan yang hinggap pada jingga matahari di sore hari ketika itu, syahdu matamu adalah yang paling menenteramkan. Sebab engkau menatap dalam-dalam mataku dalam paparan matahari yang berpakaian cantik. Pertanda bahwa malam hendak mengunjungi. Kedalaman tatap menandakan hati kita sedang dalam dekat. Mengapa dikatakan demikian? Ketika marah seseorang akan berteriak, karena hati mereka sedang jauh, untuk sampai kepada hati itu seseorang harus berteriak, semakin marah seseorang akan semakin keras ia berteriak karena jarak hatinya yang semakin jauh. Sebaliknya, engkau tidak berkata apapun, itu menandakan bahwa hatimu dan hatiku dekat, tanpa perlu berucap, pesan-pesan pada hatimu sudah sampai ke dalam hatiku..”
Begitu pesan terakhir yang dikirimkan Putra kepadaku di malam terakhir pertemuan kami. Sedang malam ini, aku bergumul dengan pikiranku sendiri. Mendetiki setiap jam yang gulirnya hanya akan berhenti ketika baterai itu dicabut dari tubuh jam. Selayaknya jiwa yang dicabut dari raga makhluk yang sedang hidup. Biar tak terus menerus menghitung waktu, biar berhenti pikir yang makin lama berpikir yang tidak-tidak. Jadilah aku meneguk lagi pahit air hitam di hadapanku. Setelahnya aku mengambil napas panjang, dan memejamkan mata. Sudah pukul dua, seharusnya Nawan sudah tiba.
“Kuperhatikan engkau sejak tadi, seperti orang kurang waras yang asyik bersetubuh dengan kopi.”
“Sejak kapan?”
“Setengah jam yang lalu, aku duduk di seberang sana. Menebak saja ronamu sedang berwarna apa, rupanya kali ini sedang abu-abu.”
“Jangan menebak-nebak. Hatiku lebih dalam dari prasangkamu. Sudah-sudah, aku sudah selesai dengan puisiku. Kerjaku tuntas malam ini.” Kuserahkan buku kerjaku pada Nawan yang sedang mengernyitkan dahi.
“Biar kulihat.” Dia mengamati lembar per lembar. “Coba bacakan mana yang menjadi kesukaanmu, dan ceritakan mengapa kau memilih itu.”
“Aku sedang tidak enak hati, lagipula aku hanya suka mencipta, tidak suka membacanya.” Tolakku.
“Aku tidak meminta kau membaca ala-ala WS. Rendra dalam puisi Burung-Burung Kondor, tidak pula memaksa engkau mengeja puisi layaknya Chairil Anwar dalam puisi Aku. Aku hanya ingin engkau membaca, dengan nadamu.”
“Ocehmu!” kupaksakan perasaan untuk membaca sebuah puisi yang kugubah sendiri. Kubuka satu per satu buku kerjaku.
Pada halaman 1
Roman
Cacatku masih saja begini
Dalam bui aku menggerutu seraya menghakimi
Waktu-waktu ketika aku terbebas dari hakim dan menghakimi
Waktu-waktu ketika aku seenak jidat menghendaki takdir

Roman berbicara dalam bahasa sayu
Memintaku menggelayut kepada tiang nan agung
Ialah pembuat cerita sebenarnya
Yang patut dijunjung di atas lolongan orang-orang papa

Kemudian bersimpuh kembali kepada gundukan tanah
Aku yang menjadi diam
Aku yang menjadi bisu
Di dalam gelap
Aku mengembalikan diri
Aku membaca sekilas puisi Roman, yang kubuat ketika mendengarkan lagu religi dari salah seorang penyanyi kenamaan Indonesia, hatiku tergugat soal kematian, serta merta puisi itu kutulis dalam proyek kerjaku bersama Nawan. Tapi kurasa sekarang hatiku sedang tidak terwakili oleh puisi Roman.
Pada halaman dua
Prasangka
Bibir bertebar dalam diam
Tapi hati berdebar menebar bingar
Siksa diri perlahan dibuat sendiri
Pada prasangka manusia menetapkan ucapan
Kemudian menjadikannya kelayakan dalam menerka-nerka
Kuasa siapa mereka menjadikan diri mereka suci
Kuasa siapa mereka menjadikan diri mereka hina
Penyakit tanpa obat
Ialah prasangka
Prasangka kutulis ketika sedang mendengarkan ceracau temanku yang menebak-nebak nasib temanku yang lain, aku yang ketika itu malas mendengarkan cukup menuliskan saja di buku kerja. Oh seharusnya aku berterimakasih kepada temanku yang berprasangka itu, sebab mempermudah kerjaku. Dan, Prasangka juga sedang tidak mewakili perasaanku sekarang.

Kubuka lembar tiga
Perawan
Kubuka lembar empat
Perjaka
Kubuka lembar lima
Titian Anak Tangga
Begitu sampai aku selesai pada lembar sepuluh, beberapa bait puisi yang kudapati di lembar sepuluh. Yang beberapa hurufnya sedikit pudar dan masih basah sebab baru saja kutulis dan dikenai beberapa tetes racun dari pelupuk mata. Kuakui malam ini aku sedang manja, tidak seperti biasanya.
“Baik, aku akan membaca puisiku yang terakhir. Suka atau tidak, kumohon dengarkan sampai bibirku mengucapkan kata terakhir puisi ini.”
Nawan hanya menganggukkan kepala, seraya menyandarkan satu tangannya di bawah dagu dengan posisi siap mendengarkan. Aku mulai membaca.
Bayang-Bayang
Selayaknya pendar cahaya
Engkau menyinari aku di setiap remang malam
Menjadikan aku bayang bayang tak beralasan
Jika diijinkan
Maka aku ingin menjatuhkan diri dan meninggalkan
Kutitipkan pada salah satu sisi jalan panjang itu
Kemudian aku melanjutkan langkahku seraya berlari
Sayangnya aku bukan pecundang yang sedemikian mudah menghilangkan sesuatu
Aku memang pengingat jalan yang buruk
Tapi aku bukan pelupa kisah hidup
Aku menitiki satu per satu
Setiap lagu-laguan yang dinyanyikan di malam hari
Setiap suara yang kuperdengarkan di dini hari
Adalah nyata
Aku hening. Kemudian menangis lagi
Begitu seterusnya dan entah berhenti di mana
Tetap jadi pendar cahaya
Biarkan aku jadi bayang-bayang yang dibentuk olehnya

Seketika kuteguk sisa kopi di cangkir, kupejampkan mata lagi dan menarik napas panjang.
“Menangislah jika memang kelelahan.” Suara Nawan membukakan mataku.
“Bunga kemarin sudah kering, Wan. Surat merah muda kemarin juga sudah rusak terkena air. Buku-buku yang kubaca bersama juga sudah ada pada pemiliknya. Lalu mengapa ini menjadi sulit?”
“Engkau memang selalu demikian, kepadaku pun engkau begitu bukan? Dulu.”
“Sebab itu aku kelelahan.”
“Ingin berhenti di sini? Atau masih mau mencari lagi? Kopimu bahkan sudah habis kau minum.”
“Aku ingin pulang.” Air mata yang kutahan-tahan sejak tadi akhirnya menjatuhkan diri. Nawan hanya tersenyum melihatku yang begini. Dia paham benar bahwa aku tidak membutuhkan banyak saran, aku hanya perlu didiamkan sejenak, sampai bisa berbicara lagi.
“Mas, kopi hitam dua.” Nawan memesan. Dua cangkir kopi hitam sudah berada di hadapan masing-masing dari kami. Dia mengaduk perlahan cangkir kopinya.
“Lelaki baik akan menyukai kopi hitam.”
“Mengapa demikian?” tanyaku.
“Sebab ia tidak menambahkan pemanis di dalamnya, itu pertanda bahwa dia setia. Bukan begitu, Mbak?”
“Kau filosofikan ini kopi ini sebagai kekasih. Laki-laki dengan kopi hitam itu lebih setia, sebab tidak menambahkan pemanis pada kopinya, semacam gula. Dia menerima, sepanjang pahit dalam penikmatannya. Sesuaikan cerita kopi ini dengan ceritamu.”
“Aku paham.”
Pukul 04.00
-SELESAI-

Advertisements