Aku

AKU
“Aku adalah suara malam yang menggaung dalam keheningan
Aku adalah kuasa Tuhan yang menjelma menjadi budak peradaban
Aku adalah tokoh dalam sandiwara penghidupan
Aku adalah kekonyolan dari guyon kala lelah
Aku adalah senja yang tertunda sebab mendung
Aku adalah pahit yang tak berasa sebab ditumpuk gula
Aku adalah mimpi, dari seorang bapak, aku adalah harapan dari batin seorang ibu..”

Puisiku kuakhiri dengan sebuah tanda petik dibelakang kata ibu sebagai penutup. Dalam suasana rantau yang masih begini, aku masih bisa menyadurkan sedikit pikiran dalam lembar-lembar lusuh yang kata bapakku tidak akan berguna. Dengan jidat yang sedikit hangat, kepala tidak seringan biasanya, aku duduk termangu menikmati wangi kopi di meja peradaban. Menjadi budak yang manut, abdi yang nurut, mengerjakan berbagai pekerjaan rumah yang katanya sudah menjadi keharusan seorang mahasiswa. Klasik sekali. Benar jika kreativitas anak muda saat ini sangat menurun, sempat pun tidak untuk berkreativitas jika tiap hari dijejali dengan kewajiban mengerjakan tugas. Seperti kubariskan di gatra puisiku, aku merasa menjadi salah satu budak peradaban. Manut saja, sebab ayah sering mewanti-wanti aku untuk tidak macam-macam di sini. Lulus tepat waktu, ipk harus cumlaude, jangan pacaran, dan bla bla bla berikutnya. Satu pesan ayah yang selalu kudapatkan setiap kali pulang ke rumah adalah jauhi narkoba, dengan guyon selalu kujawab dengan “Harga narkoba mahal, Pak! Bisa makan enak tiap hari di kosan saja sudah luar biasa, mana bisa beli narkoba.” Ayah menyahut dengan berbagai argumennya yang mengatakan bahwa aku tidak pernah serius menanggapi pesannya tersebut.
Aku rehat sejenak, menyandarkan kepala yang sedari tadi minta ditidurkan. Kuambil buku pinjaman dari sahabat baikku Rani, berjudul 1 Perempuan 14 Laki-Laki yang dikarang oleh 15 seniman kenamaan dan ditulis apik oleh perempuan sempurna bernama Djenar Maesa Ayu. Serupa dengan Rani, perempuan sempurna, jika hendak berandai aku ingin segera menyuntingnya. Meski kutahui kemungkinan ditolak jauh lebih besar daripada kemungkinan diterima. Memang siapa aku? Pemuda kumis tipis asal kampung, yang pikirannya sedang dioperasikan untuk hal-hal berbau eksak tetapi hatinya selalu mengelak dan selalu tertuju pada segala sesuatu yang berbau sastra. Seperti namaku, Gatra Sajak. Doa ayah dalam namaku memang terkabul, aku tumbuh menjadi manusia yang cinta akan keindahan kata-kata. Berpikir di luar kebiasaan pikir orang banyak katanya. Namun sekalipun ayah tahu tentang kecintaanku terhadap sastra, dia tetap ingin aku menjadi manusia yang berpenghasilan normal, bekerja, mengumpulkan uang, jadilah aku sebagai budak peradaban, berkutat dalam ilmu ekonomi. Persetan.
Sekali waktu aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik nun syahdu parasnya, dia bertanya bagaimana aku ingin mati nanti. Kujawab dengan sederhana, aku hanya ingin mati dengan pelepasan yang paling ikhlas, bukan dengan tangisan, tetapi dengan doa. Sebab seringkali tangisan hanyalah sebuah perisai menutupi kesenangan, bisa saja orang yang paling keras menangisi kematianku adalah orang yang paling bahagia kala itu. Lalu bagaimana dengan doa, jelek ataupun baiknya sebuah doa, pada akhirnya malaikat Tuhan tetap menerima yang baik. Jadi aku hanya minta mati dengan iringan doa. Itu saja. Wajah perempuan dalam mimpiku serupa Rani, oh Rani. Sesungguhnya yang ingin kulafalkan adalah bukan persoalan buku, tapi soal Rani. Dalam belerku malam ini saja, sendu matanya masih melintas di layar monitorku. Dia itu macam hantu atau apa? Bahkan foto kekasihku di rak meja perbudakan saja tidak kuperhatikan. Malah Rani yang menghantu, duh Rani, kau ini pakai pelet merek apa?
Kuakui saja, aku sudah berkekasih, namanya Marina. Cantik sekali, menurut pandangan teman-temanku. Kuanggap demikian pula, dulu. Hanya ketika kami baru dekat. Kini setelah bersama selama dua bulan, cantiknya luntur, dibasuh kecantikan puan lainnya, kedatangan Rani menghapuskan kanvas yang tadinya bergambar paras Marina. Bukan sedang mempermainkan hak perempuan, tetapi aku juga lelaki normal. Bukan hal yang salah ketika aku jatuh cinta berkali-kali bukan? Jika salah, di mana letak kesalahannya. Ayah pun mengajarkanku hal serupa. Sebab benar, ayah menikah sebanyak tiga kali. Tetapi dia tidak pernah mendua, ketika benar dia jatuh cinta lagi kepada seorang wanita, maka ia putuskan hubungan dengan wanita sebelumnya. Barulah tancap gas mengejar wanita berikutnya. Setidaknya ayah berniat baik untuk tidak membagi hati, karena dia meyakini bahwa dirinya bukanlah orang yang adil. Terimakasih ayah, ajaranmu kuberlakukan saat ini.
Ponselku bergetar. Marina mengirim pesan:
“Aku udah di depan.”
“Sebentar.”
Aku segera keluar kamar dan bergegas menuju ruang tamu.
“Tumben kemari.”
Marina memeluk erat sekali. Rasanya masih hangat. Setidaknya bisa menghilangkan dingin yang sedang merajadi diriku.
“Sudah makan? Katanya kamu sakit?”
“Flu, jangan dekat-dekat makanya.”
“Ayo makan.”
“Sebentar, laptopku masih nyala. Sekalian ganti baju.”

Sudah kuduga Marina akan datang, entah kenapa setiap kali hatiku sedang ngrasani dirinya, seketika itu pula dia datang tanpa memberitahu.
***
“Makan gih, kamu kan lagi sakit.”
Aku hanya tersenyum kecut.
“Malah senyum!”
“Kamu saja yang makan, Sayang. Lihat pipimu, sudah kurus begitu, nanti dikira aku tak menafkahimu.”
Tawanya pecah. Senang melihatnya tertawa begitu, setidaknya aku masih bisa memposisikan diri dengan baik. Meskipun dalam hatiku benar-benar sudah melantunkan nama yang berbeda. Rani!
***
“Senyummu saja sudah cukup mengobati pilu, lukai saja aku terus, sebab aku masih punya ribuan rindu untuk mengobati luka. Sedang apa gerangan puan ayu?”
Kuberanikan diri mengirimkan pesan singkat kepada Rani, sedari tadi kuhapus dan kutulis lagi, bingung memantaskan pesan untuk dikirim. Dan pada akhirnya kukirim dua baris itu, dengan mata yang tidak berani menatap ke layar handphone.
Kling. Sebuah pesan masuk. Rani! Tuhan!
“Sedang duduk santai, sambil ngopi dan nggambar, Mas.”
Lagi-lagi pikiranku jadi beku, harus kubalas apa lagi. Jariku mengetik seenaknya. “Ijinkan aku jadi kopinya, atau bahkan jadi kanvasnya, atau setidaknya biarkan aku jadi bunga di tanah, yang bisa memandangimu ngopi dan nggambar.”
Kling. Dagdigdug lagi. “Kemari saja. Kutunggu.”
Tuhan! Petunjuk macam apa ini? Dia minta ditemui? Aku yang kala itu meminjam buku saja gugup setengah mati, lalu sekarang, obrolan apa yang harus dibahas.
***
Kecup manis di kening Rani menjadi penutup obrolan malam tadi. Belerku membaik. Obat yang kusimpan di lemari tak lagi kusentuh. Sudah sembuh benar pilek ini. Sebab Rani dokternya. Kurasa harus kusegerakan saran ayah, sudah kutemui wanita baru, maka aku harus berani meninggalkan wanita sebelumnya. Benar. Aku harus mengutarakan ini kepada Marina.
***
Sisa tamparan Marina di pipi kiriku masih melukiskan gambar cantik dan menawan. Pedihnya sedikit banyak masih terasa..

Puan-puan kelana
Jalanku masih saja tak teraba
Padamu aku masih menggantung kekasihan
Jamahmu adalah segalanya

Wahai engkau puan-puan kelana
Adam sudah dicipta untuk mencinta Hawa
Seberapapun jumlahnya
Setidaknya aku masih mencintai Hawa-Hawa

Padamu puan kelana
Kubudakkan sajak pun asa

-SELESAI-

Advertisements

Theophilia

“Surpanaka, adindaku
Kau gairahku
Sinta bukan tentang cuma lelaki
Yang melindunginya dengan pedang perisai
Dengan bidang dadanya
Sinta tentang teratai

O, Teratai
Kembang elok berlumur lumpur
Sinta tentang tangisan perempuan
Tangisan yang membuat seorang lelaki
Lupa tangis sendiri
Sinta tentang teratai”

Rahvana’s Soliloquy dalam buku Rahvayana gubahan Sudjiwo Tedjo menemani jagaku malam ini. Setelah bibirku terlepas dari cumbu sebuah cangkir putih berisikan kopi pahit, yang pahitnya baru saja kutelan habis sekaligus. Mata ini masih belum sudi untuk menutup. Pun hati ini yang masih saja membayang kejadian beberapa jam yang lalu. Ditambah nyawa ini yang masih belum siap untuk menemuinya di dalam mimpi. Bibirku tersenyum kecut, menertawakan diri sendiri yang masih begini. Gerogi. Bukan gerogi sebab aku melamar pekerjaan, bukan pula gerogi sebab ditagih hutang, gerogiku sebab perempuan, yang wajarnya kusikapi dengan dewasa. Ya, kuakui, di hadapannya diri ini selayaknya buah ranum di pohon yang tersengat matahari setiap terik, menciut, sampai jatuh sendiri ke pangkuan tanah. Matanya begitu sayu, menatapku dalam-dalam sampai aku lupa melulu. Duh, Ayu, dua ribu pena tidak akan cukup untuk menuliskan rasa-rasa tak karuan ini.
Pukul sepuluh tadi, Ayu menemuiku dalam kesengajaan. Bermaksud menyampaikan beberapa pesan. Pertama, dia sudah menyelesaikan bagiannya dalam keterlibatan pembuatan buku kami, project bersama empat kawan yang sehobi. Kedua, ah, kurasa dia hanya menyampaikan itu. Ya, benar. Hanya pertama saja, tidak ada kedua ataupun ketiga. Sebab batang hidungnya lekas pergi dari pandangan. Hanya rambut hitam dikuncir kuda yang kupandang terakhir tadi. Seketika bayangannya hilang dari pandangan. Tapi tidak pula hilang dari angan. Duh.
Sebab kejadian itu aku masih begini. Membenamkan diri bersama buku, dengan jantung yang masih menggugu. Kuletakkan buku Rahvayana di samping tubuhku, aku menengadah, melihat langit-langit kamarku yang putih. Kulukiskan wajahnya dengan tangan kosong, lengkap dengan senyumnya yang ah, sudahlah. Aku jadi teringat pesan Sapardi Djoko Damono, bahwasanya perempuan itu tak bisa dieja kecantikannya; ia adalah kalimat utuh yang tak cukup sekedar dilisankan. Aku malu mengingat pesan itu.

***
Pagi hari masih kujumpai matahari di ujung timur. Oh artinya ini belum menjadi akhir dari dunia. Tuhan masih begitu asyik menyayangi setiap makhluknya. Harga udara pagi masih sama sejak jaman nabi, diberikan gratis. Kupejamkan mataku dan menghadapkan wajah ke arah matahari, berharap sisa-sisa air subuh mongering dengan sendirinya dalam kawinnya bersama hangat cahaya. Benar saja, senggama sisa-sisa air subuh dengan hangat matahari menghasilkan cita rasa tiada tara. Syahdu sedan sampai-sampai air lain jatuh di pelupuk mataku. Entah sedang dalam kondisi apa, sepertinya senggama sisa-sisa air subuh dengan hangat matahari mengejakulasikan air mata di pelupukku. Klimaks. Kuhela napas panjang. Semakin deras air mataku menetes. Pagi ini aku merasa menjadi manusia yang begitu dicintai. Oleh yang Maha Mencinta. Dalam pejamanku aku mencoba mengingat doa-doaku kepada Hyang. Begini kurang lebih:

“Tuhanku yang Maha Baik, hambamu kembali dalam kekotoran dosa-dosa pagi ini. Mohon untuk dihapuskan dalam kenanMu yang begitu murah. Hamba merangkak dari kemalasan tidur, mencari beberapa tetes air, kubasuhkan berurutan sampai membasahi kepala, wajah, tangan dan kakiku. Lalu kupantaskan diri untuk menemuiMu pagi ini. Malam tadi hamba ditemu dalam keadaan yang begitu kikuk. Kurasa hamba jatuh cinta kepada perempuan itu, Ayu. Jika perasaan ini adalah sebuah perasaan yang dibenarkan olehMu, maka ijinkan hamba untuk merampungkannya sampai tuntas. Tetapi jika pembenaranMu berbeda dengan harapanku, maka kupasrahkan segala apa yang menjadi titahMu. Sebab hamba hanyalah seorang hamba. Yang hidup dan matinya sepenuhnya ada di tanganMu. Sebab itu hamba meminta, untuk disegerakan diberikan jawaban. Sebelum kehendakMu datang kepadaku, memintaku untuk pulang dan kembali mendekat menuju sisiMu. Aamiin..”

Hatiku kian sesak mengingat doa pagi tadi. Aku merasa seperti sedang mabuk. Dimabuk oleh kekhusyukan bercinta dengan Tuhan. Cinta. Rasa primer yang sangat mudah dilisankan. Tapi sungguh, ribuan buku yang pernah menjelaskan cinta tidak akan pernah memuaskan hasratku untuk mendefinisikannya. Kahlil Gibran bahkan menyadurkan pendapatnya mengenai cinta dalam novel Sayap-Sayap Patah:

“Wahai langit
Tanyakan pada-Nya
Mengapa Dia menciptakan sekeping hati ini
Begitu rapuh dan mudah terluka
Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh
Saat berselimut cinta dan asa
Mengapa Dia menciptakan rasa sayang dan rindu di dalam hati ini
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira
Mengapa Dia menciptakan kegelisahan dalam jiwa
Menghimpit bayangan
Menyesakkan dada
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa
Wahai ilalang
Pernahkan kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini ?
Mengapa kau hanya diam
Katakan padaku “

Aku bergidik dibuatnya, Kahlil Gibran mencoba mengejakan rasa sakit hati seorang manusia yang tidak beruntung dalam pengharapannya mengenai cinta, sampai menuntut jawab dari langit dan ilalang, bahkan memaksa Tuhan untuk menjelaskan. Bukankah seharusnya cinta adalah sesuatu yang bersih? Yang halus dan lembut disampaikan kepada siapapun objeknya. Aku mencintai Tuhan, maka aku akan mencintai Tuhan perlahan dengan kelembutan dan kasih sayang yang penuh seluruh. Aku mencintai Ayu, maka aku harus mencintainya perlahan dengan kelembutan dan kasih sayang, meskipun kadarnya tidak penuh dan seluruh. Sebab penuh dan seluruhku sudah kuberikan kepada Tuhan. Aku tidak mau menduakan Tuhan. Sebab Dialah cinta pertama dan terakhirku.
Oh! Rupanya air mataku sudah mengering dengan sendirinya. Benarkah aku takut? Jika apa yang kupikirkan sudah menjadi pembenaranku sendiri. Aku mencintai seorang perempuan, dengan segenap hatiku. Tapi aku takut akan menyalahi pembenaranNya. Sebab aku dan Ayu berbeda. Secara haqiqi kami serupa, makhluk yang lahir dari rahim seorang ibu, dan tumbuh besar menjadi manusia dengan keadaan yang utuh. Ada satu hal yang tak bisa disamaratakan diantara kami. Yakni keyakinan kepada Tuhan. Aku mencintai Tuhanku, dia mencintai Tuhannya. Walau sungguh aku menyungguh, bahwasanya Tuhan adalah satu. Sama. Sebab Mahatma Gandhi pernah berkata bahwa esensi dari semua agama adalah satu, hanya pendekatannya yang berbeda. Aku pun meyakini demikian. Biar saja rasa-rasa ini tumbuh menjadi rasa yang arif. Selayaknya filosofi yang berarti cinta dan kebenaran. Aku ingin menjadi yang demikian. Bersamaan dengan apa yang dikehendakkan oleh Tuhan. Hati. Dan Ayu.

“Jauh-jauh hari, aku sudah mencintaimu Ayu. Aku ingin perasaanku menjadi sebuah Theophilia. Mencintai sebab Tuhan. Karena Dialah, yang menyebabkan aku jatuh cinta, kepadaNya, kepada hidup, pun kepadamu..”

Theophilia
-Abimanyu-

Kalimat itu mengakhiri surat yang kutulis pagi ini, biar lekas kuantarkan ke Katedral, Ayu beribadah di sana setiap hari Minggu. Aku pun hendak ke Istiqlal, mencari jawaban atas pertanyaanku pagi tadi kepada Tuhan. Ya, andaiku adalah bisa seperti Katedral dan Istiqlal, berhadapan dan saling mencintai. Suatu hari nanti. Oh! Theophilia, Ayu..

-SELESAI-