Manusia

Tuhan telah menciptakan manusia sebagai salah satu ciptaanNya yang paling sempurna. Berbagai macam teori penciptaan manusia bermunculan, Morphic Resonance yang mengemukakan bahwa kesemua ciptaan di muka bumi adalah kesepakatan bersama didasari oleh telepati yang menganggap kesemuanya benar-benar ada, Cosmic Ancentry yang menyatakan bahwa alam semesta dan seisinya memang sudah ada sejak awal dan tidak berubah, ataupun Intelligent Design yang berpendapat bahwa tidak ada satu teoripun yang mampu menjelaskan mengenai awal mula keberadaan manusia, manusialah yang dapat membuktikannya melalui teori yang lebih pintar.

Nikmatilah kesemua teori tersebut, satu hal yang perlu diingat adalah Tuhan memiliki tujuan akan penciptaan manusia. Definisikan dalam masing-masing pandangan ilmu, kepercayaan dan afeksi. Saya meyakini bahwa tujuan manusia ada di muka bumi adalah untuk mencari sesuatu, sesuatu yang sebenarnya teramat dekat, dengan dihamparkan berkilo-kilo padang pasir, tak berujungnya samudera, tingginya langit, panasnya matahari, Tuhan memiliki tujuan dalam penciptaanNya. Yakni agar manusia menemukan penciptanya, Tuhan.

Dalam perjalanannya seringkali kita dibuat pusing. Persoalan hidup, hutang piutang, dosa akan pendustaan agama, kebodohan, kemiskinan, lapar, haus. Sampai kita disesatkan dalam perjalanan. Kita sendiri, dan sialnya lagi kita tidak berpeta. Buta arah. Lagi-lagi hanya alam yang mampu menjadi petunjuk, untuk kembali kepada jalan yang baik lagi benar, untuk kembali menemukan pencipta manusia, lagi-lagi.

Dalam perjalanannya kita seringkali merasa menjadi manusia yang tidak diberikan keadilan, merasa menjadi manusia yang tersial dan dijahati keputusan Tuhan. Padahal dirinya sendiri tidak pernah mengenali Tuhan, bersyukur saja enggan, sebab rasa-rasa bahwa dirinya merasa tidak diadili oleh keputusan Tuhan adalah wujud ketidaksyukuran terhadap apa yang diberikanNya. Seolah-olah mengkufuri nikmat. Padahal tanpa sadar dia masih menghirup udara secara cuma-cuma, masih bisa melihat pemandangan secara cuma-cuma, masih bisa menikmati angin secara cuma-cuma. Segalanya Tuhan berikan secara cuma-cuma, tapi manusia menjadi lupa. Sebab segala sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma dan kontinyu, maka penikmatnya akan keenakan, sampai klimaks menikmati senggama dengan kegratisan yang diberikan Tuhan. Manusia menjadi lupa, lalai, atau bahkan pura-pura lupa dan lalai.

Ingatlah bahwa manusia adalah ciptaan yang sempurna, sekalipun kehadirannya merusak kesempurnaan ciptaan Tuhan.

Purwokerto, 03 Maret 2016 00:29