Marisa

Marisa masygul melihat perangai hujan yang berbeda dari kemarin. Simbahnya tak sedingin ketika turun pertama kali membasahi gentingnya. Terasa lebih anggun, harum, dan nista. Dikenakannya lagi kemeja putih yang sedari tadi terbebas dari tubuh jenjangnya. Diteguknya setengah gelas bir sisa mabuk semalam. Pikirannya masih kalut, pusingnya masih berasa meski sudah  membasuh diri di kamar mandi. Beberapa puntung rokok menggeletakkan diri tidak pada tempatnya. Ya, semalaman Marisa mengurung diri di balik tembok kamarnya. Mengasingkan diri dari hidup yang mulai membuat kepalanya pening.

“Bangsat!” benak Marisa kembali meronta-ronta. Secepat kilat dia berlari menuju dapur dan mencari bir di laci dapurnya. Sayang, dia lupa bahwa semalam dia sudah menghabiskannya sendiri. Hatinya makin kalut.

***

Kupuja-kupuji

Bak Tuhan di dalam kuil

Dupa kuserupa cinta

Doa kuserupa nyawa

 

Kupuja-kupuji

Rupamu menyeruakkan bau asap

Sesak jiwa mendalami asa

Sudahi

Benci

Benci

Benci

Dua bait puisi ditorehkan Marisa dalam buku catatannya. Dia mencoba mengejawantahkan perasaannya dalam sebuah tulisan. Djenar, laki-laki yang sudah dua bulan menidurinya tiba-tiba meninggalkannya tanpa sepatah kata. kaburnya serupa asap yang ditiup angin segara, setelah dua bulan dipuja dan dipuji bak Tuhan di jalan-jalan. Bualannya saja yang ditinggalkan. Bualan soal cinta, kesetiaan, muak!

***

Gelas vodka diisinya dengan secerca air berwarna kuning tua. Serupa urin yang baunya pun menyengat.

“Lupakan saja, badanmu kan masih bagus. Laki-laki mana yang tidak jatuh hati kala melihatmu?”
“Anjing, kau pikir aku bisa tidur dengan siapapun?! Gemblung!”

“Djenar yang baru kau kenali satu minggu saja sudah bisa seranjang denganmu. Apa itu nggak gampang namanya?”
“Aku cinta dengan Djenar!”

“Sudah tua masih saja percaya cinta! Omong kosong!”

Diteguknya dua gelas vodka sekaligus. Matanya merem menahan rasa pahit yang mengalir di tenggorokannya. Perlahan pandangannya kabur. Dan menghitam seluruh pandang. Keheranan menghinggapi benaknya. Benarkah dia tertipu dengan sebuah kata bernama cinta? Lalu kepuasan yang selama ini dirasakan bersama Djenar tidak bisa dikatakan sebagai cinta? Marisa muak dengan kata-kata bernada cinta. Lalu selama ini apa?! Benarkah sebuah perasaan ingin bersetubuh harus diikat terlebih dahulu dalam sebuah hubungan merepotkan bernama pernikahan. Jika pada akhirnya bercerai, apa itu tidak disebut sebagai pernikahan guna kawin saja? Lucu sekali memang.

Lampu biru berkelip makin kencang. Marisa tertidur.

***

Marisa terisak dalam diam. Menyesali tidurnya semalam. Dia menggugu dalam hati, bahwa benar. Dirinya gampang.

SELESAI

Advertisements