Mungin

hhhhhhhh

Mungin. Potret nama seorang bocah yang rupanya lugu sangat. Tinggal di Desa Gununglurah, sisi lain dari Banyumas yang sulit dijamah. Sekali waktu aku bersama kawan mencoba meninggalkan sesak ramai Purwokerto, menuju sisi lain itu. Meninggalkan haluan tentang kesulitan menjamah tempat itu. Jalannya tidak curam, hanya landai sangat. Akupun hanya tertawa tiap kali membayangkan yang aneh-aneh sepanjang perjalanan.

Kembali kepada Mungin, aku melihatnya pertama kali saat memandu kegiatan di desa tersebut. Perhatianku sesaat tertuju padanya. Pikirku “Lugu sekali anak ini..”. Berjalan pelan mendekati kawanku di meja pendaftaran lomba, kawanku menawarkan beberapa pertanyaan, “Mau ikut lomba apa, Dek?” Mungin hanya diam. Pertanyaan berikutnya “Ikut lomba makan kerupuk mau?” Mungin masih diam. Akhirnya aku membantunya menjawab pertanyaan kawanku itu, “Sudah, ikutkan saja yang mudah.” Mungin masih saja diam. Benakku masih saja cengar-cengir dengan tingkah polah bocah ini. Tibalah pada saat lomba. Nama Mungin dipanggil oleh pembawa acara. Dengan kaos biru yang warnanya memudar,

Mungin berjalan seperti biasanya. Asal tahu saja, tingginya tak lebih dari pinggangku, ya usianya kutebak baru sekitar empat tahun. Rambutnya berkeringat sedikit karena matahari. Mungin mendekati pemandu acara dengan wajah biasa. Kala diabsen ulang “Adi.. ada.. David.. ada.. Jannah.. ada.. Elsa.. ada.. Mungin..” Tidak ada jawaban “Mungin mana Mungin?” Pemandu acara tidak patah arang. Di sisi lain, rupanya Mungin sudah berdiri di depan kerupuknya yang digantung dengan rafia hitam. Duh, benakku cengar-cengir lagi. “Satu.. Dua.. Tiga..” Aba-aba dari pemandu acara memberikan tanda kepada peserta untuk mulai melahap kerupuknya. Kuperhatikan satu per satu. Jannah dengan kerupuk yang sudah tiga kali digigit, Adi, David, Elsa dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Kuarahkan pandang pada Mungin, aduh Nak. Ayo makan kerupuknya. Kuperhatikan dia hanya memandangi bulatan kuning di hadapannya. Atau mungkin talinya terlalu tinggi? Tidak juga, talinya pas ada di hadapan mulutnya. Atau mungkin Mungin tidak lapar? Entahlah. Aku mendekatinya “Mungin, ayo semangat.” Begitupun kawan-kawanku. Dengan tawa renyah mereka memberi komando kepada Mungin untuk sesegera mungkin menghabiskan kerupuknya. Saking gemasnya, salah satu kawanku menyuapkan kerupuk tersebut kepada Mungin. Melanggar aturan memang, tapi yang lain hanya bersikap sewajarnya, yang penting Mungin memakannya barang sepotong saja. “Yeeee, Jannah menang..” Suara pemandu acara mengakhiri perjuangan Mungin. Kerupuk yang masih banyak dipoteknya untuk dibawa pulang. Benakku masih cengar-cengir.

Malamnya, aku bersama keluarga baru MTs Pakis berdiskusi pasca menghabiskan makan malam kami. Memasuki sesi diskusi, bahasan pertama diawali dengan topik “Mungin” lagi. Aku yang sedang kedinginan semakin tertarik mendengar ceritanya. Rupanya, Filosofi nama Mungin cukup mendalam. Mungin diejawantahkan sebagai “Metu Dingin” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Keluar Duluan”, tebakku, mungkin Mungin adalah anak pertama di keluarganya. Konsenterasiku hanya fokus pada bahasan Mungin saja. Karena sesudahnya, mataku sudah lelap dan kusandarkan kepalaku di kursi. Kehangatan yang tercipta sedikit memperbaiki cekaman suhu ruangan.

Aduhai, Mungin. Dalam dua hari saja kau sudah mengajariku banyak hal. Sampai-sampai tidur malam untuk sekedar memikirkan bagaimana menulis cerita tentangmu. Keluguan, kejujuran, kesederhanaan, sempurna ada di dalam dirimu. Cepat besar, Nak! Semoga menjadi penerus bangsa yang tak hanya banyak omong. Berbahagialah dengan lingkungan yang indah, buatah mata kami semua terbuka tentang kesahajaan. Terimakasih, Mungin!

Advertisements

Guyonan Malam (Jodoh)

Setali tiga uang dengan judul yang kutulis, guyonan malam kembali menyuguhkan kelucuan yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang. Jadi begini, sore tadi aku duduk bersama karibku bernama Noval di Hall Tengah kampus. Kami sedang menyiapkan Intensive Training Debat yang makin hari makin bikin kalap. Seraya menunggu datangnya pemain lain, kami pun bergurau mengikuti suara alam. Aku menyeletuk sambil menatap syahdunya langit kala itu, “Langitnya kosong, seperti hidupku saja. Hahaha.” spontan Noval menyaut “Jangan begitu, kamu tidak tahu saja bahwa jodohmu juga sedang kelimpungan mencarimu, dia juga sedang berlari, hanya jalan kalian saja yang belum dipertemukan.” Benakku seketika memikirkan ucapannya yang biasanya hanya gurauan. Namun kali ini ada benarnya juga. Ya, sebagai seseorang yang vokal tentang hati dan perasaan, aku mencoba memberi motivasi bagi kalian semua yang seringkali mengeluh karena tak kunjung diberi petunjuk tentang jodoh. Tidak usah khawatir, Tuhan saja sudah menyuratkan firmanNya. Mana mungkin Dia ingkar. Kita tidak pernah menyadari bahwa hidup ini berjalan begitu cepat. Kita seringkali lali bahwa Tuhan sudah menyiapkan segala yang baik di ujung jalan sana. Hanya tinggal bagaimana kita mengambil langkah, cepat atau lambat kita akan sampai pada titik terbaik itu. Selalu ingat bahwa jodohmu sudah dipersiapkan, dia juga sedang kebingungan mencari jalan menuju dirimu. Kita hanya perlu menyiapkan segala yang terbaik untuk pertemuan itu. DUh duh duh, menyoal cinta memang seperti cintaku padamu saja, tak ada ujungnya. Hahaha. Semoga terkenan dengan tulisan ini. Sampai jumpa di next Guyonan Malam!