Sajak Segelas Kopi

detik_kopi

Gulai aku

Dua sendok saja cukup

Sekedar mengurangi komentar penikmatku

Dua sendok saja

Agar aku tak kehilangan diriku

Agar aku masih bernama kopi

Agar aku masih berasa kopi

Seduh aku

Dengan air hangat saja cukup

Agar mengurangi ceracau penikmatku

Air hangat saja

Agar aku langsung bisa ditelan

Agar aku langsung dirasakan

Agar aku langsung menghilangkan penat

Temui aku

Di malam hari saja

Agar bertambah puji-pujian penikmatku

Malam hari saja

Agar aku bisa mengingatkan rindu

Agar aku bisa menghangatkan dingin

Agar aku bisa meninggikan syukur

Hanya itu, karena aku hanya segelas kopi

Advertisements

Sesekali perlu melihat ke atas, hanya saja perspektif kita jangan diarahkan pada status sosial. Ini lebih mengenai kita dengan Sang Pencipta, lihatlah langit, sebegitu Megahnya merona tanpa jatuh, lalu bagaimana dengan Penciptanya? Tidakkah Dia jauh lebih Megah?

11911844_862649667137600_1726072040_n

Guyonan Malam (Inspirasi Beku)

Inspirasiku menghilang begitu saja. Kurasa posisinya tergantikan oleh Tuhan. Memang, beberapa waktu lalu aku lali jatuh cinta kepada seseorang. Tapi Tuhan menghentikanku di tengah jalan. Dalam titahNya seraya mengelus rambutku, aku dituntun kepada kebajikan yang paling bajik dan bijak. Bahwa mencintai dalam nyata memang bukan sesuatu yang baik. Aku dimintaNya untuk mengubah cinta itu menjadi sebuah doa. Karena di dalam doa segalanya menjadi jujur. Dan sekarang, aku melaksanakan itu. Hampir sepuluh hari aku tidak mencoretkan sesuatu. Tidak mengaku-ngaku sedang sibuk. Tetapi nyatanya memang begitu. Selain itu ya itu tadi, inspirasiku hilang. Dibekukan oleh Tuhan. Aku sendiri sedang menunggu-nunggu kapan akan dilelehkan lagi.

Seperti itulah pentingnya sebuah inspirasi. Kadang ketika kita tidak sedang terfokuskan pada sesuatu/seseorang, kita akan aman-aman saja mendapatkan wangsit dalam menulis. Jari-jari kita semilir mengalir saja mengetikkan kata-kata yang bajik. Namun ketika kita berkali-kali menulis karena fokus pada suatu hal, maka ketika sesuatu hilang, pergi, jauh, atau jarang dijumpai, maka kemudian kita akan sulit menemukan inspirasi baru. Sulit melepaskan diri darinya. Tapi cobalah, waktu akan menjawabnya.

Biarkan saja fokus yang kemarin terbekukan. Ketika Tuhan melelehkannya kembali, maka kalian diijinkan untuk maju. Tetapi jika inspirasi itu masih saja beku, maka memang Tuhan belum menginginkan kalian untuk maju

Nikmati saja, dan jangan lupa bahagia! See you in the next Guyonan :v

Guyonan Malam (Atasi Patah Hati)

Bicara soal patah hati, hampir semua orang pasti pernah merasakannya. Semua orang yang punya ‘hati’ maksudku. Malam ini, aku ingin berceloteh dengan guyonan yang ringan saja. Patah hati adalah penyakit yang menyerang seseorang ketika apa yang diharapkan olehnya tidak diadapatkan sepenuhnya, atau bahkan tidak sama sekali. Ya, mari membahas itu semua. Aku berani mencorat coret seperti ini karena, ah sudahlah, jangan tanyakan lagi berapa kali mengalami itu. Begini kawan, santai saja ketika mengharapkan sesuatu. Itu menjadi kunci penting, karena berpengaruh langsung terhadap kadar sakit hati. Semakin tinggi kadar pengharapan kita terhadap sesuatu/seseorang maka akan semakin tinggi pula kadar patah hati kita. Kawan, sebuah perasaan memang diawali dari pandangan mata, kemudian berlanjut kepada intensitas kebersamaan, dan berakhir pada ”status” kepemilikan. Tentu saja, perasaan yang diawali dengan pandangan mata akan semakin tinggi ketika sudah memasuki intensitas kebersamaan yang meningkat. Di sinilah, waktu rawan di mana kita semakin merasa aneh ketika bertemu, ngga smsan kangen, tapi pas ketemu diem aja, ngechatt duluan malu, tapi ngga ngechatt kangen, akhirnya update status yang ngode-ngode gitu deh biar dia peka. Hahaha. Nyatanya dia ngga peka peka juga. Nah, gengs, kelakuan-kelakuan aneh kayak gini nih yang harus kalian cegah. Misalnya, berlatihlah untuk tidak terlalu memfokuskan diri selalu berpikir tentang doi. Emang sih, dia lewat terus dii pikiran kamu, tapi kalian harus berani lawan, tapi ngelawannya ngga usah sekuat tenaga juga, nanti malah jadi munafik. Lawan sebiasanya aja, ketika doi lewat di pikiran kamu, yaudah biasa aja, cukup kasih senyum alakadarnya aja. Terus kalau kangen gimana, ya tinggal sms aja kangen sama dia, nggausah malu. Kan kalau dia langsung tau alhamdulillah, siapa tau dia juga suka dan langsung ngajak jadian. Kalau dia bilang disuruh temenan aja ya no problem, kan kita juga belum suka suka banget (inshaallah). Dan terakhir, update status kode. Hahaha, ini nih kelakuan yang paling susah dicegah. Secara kalian hidup di jaman serba canggih, smarthphone yang selalu komplit dengan paket bergiga giga demi memuaskan hasrat kalian untuk curhat di medsos, salah satunya buat ngodein doi biar dia pekaaaaa. Gengs, pikir pakai logika sekali-kali ye, dia belum tentu online terus, dia belum tentu baca status kalian, dia ngga cuman ngurusin sosmed, pokoknya banyak kemungkinan yang nyebabin dia ngga baca status kalian lah. Dan lagi, ketika kalian update status di sosmed, otomatis banyak temen kalian yang pada tahu, dan besoknya kalau ketemu bakalan kepo, eh itu status buat siapa si, eh itu buat dia ya, buat dia kan, ayo ngaku, ihhh, kalian udah deket sekarang, bla bla bla yang membuat kalian akhirnya cerita lah soal perasaan kalian. Dari hal-hal kaya ginilah yang bikin kalian lebih rentan ngalamin patah hati, karena banyak orang lain yang udah tau, sedangkan hasil akhirnya dia ngga suka sama kalian, kan ngenes. So, please, mulai sekarang jadilah seorang pecinta yang berkelas. Sudah cukup cerita kelam di masa lalu, jadikan itu sebagai motivasi dan pembelajaran yang berharga buat kalian (aku juga maksudnya). Mulailah mencintai dengan hati, bukan hanya dengan lisan, mulailah bercerita pada buku, jangan kepada teman, karena sebaik baiknya teman adalah buku. Katanya. See you in the next guyonan 😀 bye

Nyanyian ‘Alengka

Nyanyian ‘Alengka menidurkan setiap pendengarnya

Kemahsyuran tak tertandingi tercipta di dalamnya

Kuasa siapa menjadikan ‘Alengka merdeka?

Bebas katanya, indah katanya, sempurna katanya

Raja ‘Alengka manis menduduki singgasa

Tak terusik sedikitpun oleh gerak-gerik jalan selirnya

Menikmati kuasa waktu dan kuasa berita

Sesekali ia terlelap dalam irama nyanyian ‘Alengka

Berjalan begitu indah ‘Alengka menikmati suasana

Terhapuskan sadarnya akan sisi lain dari bahagia

Nestapa mengintai setiap tutur langkahnya

Ialah Rahwana, durjana angkara murka

Dalam lelap raja, Rahwana bersuara

Dalam lelap raja, Rahwana berkuasa

Dalam lelap raja, Rahwana membunuh ‘Alengka

Dalam lelap raja, kobar api Rahwana menggelora

Nanyian malam ‘Alengka terhenti begitu saja

Iramanya melemah hamper binasa

Tergantikan nyanyian lain yang menyakitkan telinga

Ialah nyanyian malam para jelata

Lelap raja terjaga tiba-tiba

Nyanyian itu mulai menyakiti telinga raja

Menangis ia tersedu dalam bungkam nestapa

Selir-selir mengikat lakunya selagi ia dalam lelapnya

‘Alengka menangis dalam kuasa binasa

‘Alengka terisak dalam jerit sandiwara

‘Alengka terbisu dalam murka Rahwana

‘Alengka tertipu dalam muka dua selir-selirnya

Kubelikan Sebuah Cermin

Hei kau yang tak pernah menyulamkan senyum!
Bukankah hidup ini terlalu indah untuk dibiarkan lewat begitu saja?
Hatimu terlalu kaku teman
Hatimu seperti ayam lima hari di dalam lemari pendingin

Bicaramu tak bernada
Padahal beraikyu tinggi katanya
Memang benar hatimu terlalu lama didiamkan
Seperti bangkai mati yang dibiarkan di kolong jembatan

Esok hari aku belikan sebuah cermin di kota
Kota tua bernama peradaban
Biar kubelikan pula buku panduannya
Agar kau tak lupa bagaimana cara bercermin

Esok hari kubelikan sebuah cermin
Cermin super yang mampu menatap nanar ke dalam hati dan pikiranmu
Cermin super yang mampu membuka jendela otak bekumu itu
Cermin super dengan kekuatan memecahkan egoisme

Esok hari kubelikan
Jika memang aku disempatkan Tuhan untuk ke kota
Esok hari kubelikan
Jika memang kota tua masih mau menjual cermin macam itu
Hahaha

(Doc. 14 Mei 2015)

INTROVERT

Sepeda ini menjadi teman terbaikku di saat ini. Melamun sendiri di sudut kota yang  sangat ingin aku tinggalkan. Bahkan kilauan langit yang selalu mengiringi hari-hariku pun tak bisa lagi mempertahankan hatiku untuk tinggal. Aku ingin pergi menjauh dari segala apa yang berhubungan dengan kehidupanku sekarang. Jika Tuhan memberikan satu permintaan yang akan dikabulkanNya , maka aku akan meminta untuk tidak dilahirkan. Aku Lara, Lara Anjani. Lahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara dalam sebuah keluarga yang sempurna. Ayahku adalah seorang kepala polisi di kotaku, ibuku adalah wanita kuat dengan bisnis yang berkembang di bidang kue, kedua kakakku adalah orang-orang yang sangat aku segani. Banyak orang menilai bahwa kehidupanku begitu sempurna. Hidup dalam keluarga utuh, berpendidikan, dan cukup akan materi. Tapi sesungguhnya tak banyak dari mereka memahami apa yang sebenarnya terjadi. Satu hal yang ingin kuteriakkan di depan mereka adalah, apa yang nampak dari kejauhan tak akan sama dengan apa yang nampak dari dekat. Orang lain hanya memadang kehidupanku dari jauh, jika mereka mendekat,  atau mau masuk dalam kehidupanku, kuyakin mereka akan muak dan lari terbirit-birit untuk pergi menjauh sejauh-jauhnya. Aku tak mampu bercerita apapun kepada mereka, aku tak mampu mengungkapkan kisah sebenarnya di balik layar perak yang telah tergelar indah di hadapan orang-orang umum yang memandang kehidupan keluargaku. Setiap hari aku harus berimajinasi dengan diriku sendiri untuk menunjukkan peranku sebagai sosok yang bahagia dengan sejuta kesempurnaan. Aku bisa melakukannya dengan baik, aku selalu bisa melakukannya dengan baik karena aku memaksa diriku untuk melakukannya dengan baik. Layar perak yang begitu indah ini tak mungkin aku goyahkan begitu saja. Aku menyayangi kedua orang tuaku, aku menyayagi kedua kakakku. Aku hanya ingin mereka juga menikmati hari-hari mereka dengan baik.

Ditakdirkan dalam kehidupan yang sempurna di mata orang-orang, membuatku hidup dalam sebuah lingkar setan yang tak pernah berujung. Kepura-puraan, kemunafikan, keegoisan, bahkan kelicikan menyusup masuk ke dalam diri yang sedang mencari jati diri ini. Aku kalah oleh keadaan, tapi aku masih memiliki kesadaran akan Tuhan. Aku tak mau menjadikan orang lain rugi atau pun susah karena keberadaanku, keadaan memutuskanku menjadi seorang introvert. Jauh dari kehidupan sosial, memandang sebelah mata omongan orang lain, tak peduli dengan ligkungan, dan melakukan segalanya sendiri. Dari dalam jiwaku masih ada sisa sisa semangat untuk bangkit dan menjadi manusia normal, bergaul dengan baik, tertawa bersama orang-orang yang kerap disebut teman. Tapi tiga perempat dari jiwaku menolak. Keangkuhan yang merajai hatiku memaksaku untuk menyerah kepada keadaan. Dan beginilah aku sekarang. Ciptaan yang mungkin juga disesali oleh Tuhan. Aku bahkan takut untuk menyebut nama Tuhan, karena aku pun tak mengenal Tuhan, aku hanya mengetahui namanya, katanya dia adalah suatu Zat yang Maha Tinggi. Begitu saja aku mengenalnya, aku menghargaiNya karena dikatakan bahwa Dialah yang menciptakan aku. Dan sekarang aku begitu menyesal karena Dia telah menciptakanku.

Saat ini aku mencoba bertahan menjalani hari-hariku menuntut ilmu di sebuah universitas terkemuka di kota ini. Ayah telah mengatur semuanya untukku, termasuk studi yang harus aku ambil. Jurusan yang begitu memuakkanku. Ilmu eksakta, angka, kepastian jawaban, adalah sesuatu yang tak bermoral, aku lebih suka dengan sesuatu yang tak pasti, bahkan abstrak. Aku sudah mencoba mengatakan pada ayah bahwa aku tidak bisa bertahan di jurusan yang dia pilih, tapi hanya tamparan kasar yang aku dapatkan. Dia mengatakan padaku bahwa hidupku adalah mutlak dalam aturan mainnya, aku hanya berhak menjalankanya. Dia membiarkanku hidup di dunia ini, hanya untuk memenuhi ambisinya yang tak pernah terpenuhi oleh dirinya sendiri. Lagi-lagi aku harus bersandiwara memasukkan materi-materi kuliah yang sama sekali tak diharapkan oleh otakku. Bahkan mungkin otakku juga telah berpura-pura menerimanya. Dan hasilnya, aku masih bertahan sampai semester dua ini. Walau belakangan ini aku merasa begitu jenuh, aku ingin terlepas dari segala beban yang aku tanggung saat ini. Berjalan sendiri begitu sulit kurasakan, tanpa teman, acuh, dan seperti aku tak pernah ada di dunia ini. Aku seperti debu yang tak pernah terlihat oleh mata orang-orang di sekitarku.

***

Pagi ini terasa begitu menyejukkan, aku mencoba menyapa alam, karena kurasa hanya merekalah yang menyambut terbukanya mataku di setiap paginya. Ada dua mata kuliah yang harus kuperangi di hari ini. mata kuliah pertama pukul 07.00WIB, aku bergegas mandi dan menyiapkan diri. Selesai bercermin, kulihat handphoneku, ada sebuah pesan baru.

“Lara, aku jemput kamu ya.”

Begitulah bunyi pesan singkat yang kubaca. Pengirimnya masih orang yang sama. Namanya Juna, sudah dua semester dia menggangguku dengan pesan-pesan yang tak pernah kubalas. Aku tak tahu apa yang sebenarnya dia inginkan dariku. Setiap pagi dia ingin menjemputku, setiap hari dia menyapaku dengan senyum yang tak pernah kubalas juga, aku masih tak mengerti sampai saat ini mengapa dia masih bertahan berlaku seperti itu padaku. Aku hanya membalas sapaannya sesekali saja, itu pun hanya dengan beberapa kata “awas”, “minggir”, “permisi”, itu saja. Tapi karena pagi ini aku telah disambut oleh alam dengan baik, aku membalas pesan singkatnya.

“Tidak, terimakasih.” Jawabku.

“:D makasih ya Lara..” begitu dia membalas pesanku.

Terimakasih? Aku menjadi semakin bingung, mengapa dia mengucapkan terimakasih atas penolakanku.

“Untuk apa?” balasku.

“Untuk pesan balasan tadi, pesan yang barusan juga”

Aku hanya tersenyum membaca sms terakhirnya. Aku tersenyum?

***

Ruang kuliah masih begitu sepi, aku terlalu bersemangat dalam berakting pagi ini. Tapi ini tidak terlalu buruk, dengan begini aku bisa menikmati beberapa menit bersama langit yang begitu cerah. Kutarik napas panjang, aku merasa begitu lepas.

“Dor!” suara seseorang mengagetkanku.

Kutengok di belakangku, Juna. Aku hanya diam dan kembali menatap langit. Seperti biasa aku tak mau membangun pembicaraan dengan siapapun, termasuk dia.

“Serius banget lihatnya, ada apa sih di sana?” dia bertanya padaku.

Aku masih diam saja, rasanya malas menjawab pertanyaan bodoh semacam itu.

“Lara, aku cuma mau kasih ini.” ucapnya sambil meletakkan sesuatu disebelahku.

“Aku bakal seneng banget kalo kamu mau baca ini..”. katanya sambil berlalu.

Kulirik wajahnya sekilas, dia sudah menjauh, tapi senyumnya masih mengembang di wajahnya. Senyum yang begitu tulus sepertinya, aku memahami senyumnya tulus karena aku telah berpengalaman dalam menilai senyum kepura-puraan dan senyum kepalsuan dalam hidup ini. Kulihat apa yang ia tinggalkan, sebuah amplop berwarna pink, kubuka, sebuah kertas bertuliskan beberapa kalimat

“Senang rasanya melihatmu tersenyum di balkon pagi ini, tetaplah seperti itu, Lara..”

Ternyata dia telah menungguku sepagi itu. Lucu sekali, aku masih tak memahami apa yang dia lakukan padaku. Tapi aku tak mau membalas apapun padanya, untukku, tidak menjauhinya saja sudah perlakuan yang baik dari diriku. Itu hanya karena dia selalu bersikap baik padaku.

***

Kuliah pagi kuselesaikan dengan baik, ada beberapa pertanyaan kuis selama kuliah, kujawab dengan mudah, itu karena dosen memberikan pertanyaan-pertanyaan yang setngkat dengan anak SD menurutku. Aku ingin bergegas pulang ke pondokanku, tempat ternyaman di kota ini, satu-satunya tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri.

“Lara….!!!!!” Seseorang memanggilku dari kejauhan. Biar kutebak, itu pasti Juna. Aku tak menengok sedikitpun, tapi dia berhasil menyusul langkahku, terpaksa aku harus berhenti.

“Kamu mau langsung pulang?” tanyanya padaku.

“Iya.” Jawabku.

“Lara, ajarin aku materi yang tadi, sungguh, materi statistika tadi seperti membunuhku.”

“Apa yang membuatmu berpikir aku bisa mengajarimu?” kataku.

“Karena kuperhatikan tadi, kamu mengerjakan soal-soal kuis itu dengan santainya. Kukira kau pasti bisa. Ayolah, ajari aku sekali ini saja, kumohon..” pintanya.

Aku menarik napas panjang, aku tak tahu harus menjawab apa. Dia sudah masuk daftar orang yang harus kuhadapi dengan sikap yang baik selain dosen.

“Untuk kali ini saja.” Jawabku.

“Thanks Laraaa..” dia menjawab dengan girangnya

Senyum tulus itu kembali muncul tepat di hadapanku. Membuatku sedikit merasa aneh, jantungku terasa berdetak lebih cepat. Tidak, ini hanya permainan sentuhan. Tatapan mata adalah sentuhan tidak langsung. Aku tak ingin terbawa suasana. Aku langsung mengalihkan pembicaraan.

“Kita langsung ke perpus.” Kataku.

“Aku ngga bisa tahan sama hawa dingin, kamu tahu sendiri di dalam perpus ACnya menyala dengan suhu yang membuatku selalu menggigil. Gimana kalau di halaman perpustakaan pusat? Ini kan masih pagi, jadi belum terlalu panas. Ya?” pintanya.

Aku hanya tak mau berlama-lama berurusan dengannya, aku mengiyakan saja permintaannya. Dan yang lebih menyebalkan, aku harus membonceng motor gedenya, tapi sudahlah, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bersikap baik pada anak ini. Kuturuti saja apa yang dia mau selama itu positif dan tidak mengganggu waktuku.

“Ngga apa-apa kan kamu bonceng motor ini?” tanyanya sambil menunjuk motor gede dengan nomor polisi G3010MN.

Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum sebisaku. Dia membalas senyumku dengan senyum tulus itu lagi. Kurasa itulah senjata mematikan yang dimilikinya untuk selalu bisa meluluhkan hatiku yang sekeras batu.

***

Juna mengantarku sampai ke pondokan, aku mengajarinya dengan baik tadi, kurasa dia pun menerima apa yang kuajarkan dengan baik. Diskusi kami berjalan lancar, hanya ucapan terimakasih berkali-kali yang dia ucapkan sebelum pergi. Satu hal yang mengganjal di pikiranku sampai saat ini adalah ketika kami berada di jalan raya, dia sempat mengucapkan suatu kalimat yang membuatku bingung.

“Lara, kalau aku pergi, kamu jangan kangen ya. Karena aku yakin kamu emang beneran bakal kangen sama aku.”

Kalimat itu terdengar sayup-sayup karena kami sedang berada di jalan raya, aku mendengarnya sekilas, tapi karena aku tak memahami maksudnya, aku hanya bertanya “Pergi?” dan dia hanya menjawab pertanyaanku dengan tawanya, “Sudahlah, lupakan, ngga penting Ra..”. Yasudah, karena dia mengatakan itu tak penting, maka aku akan melupakannya saja, aku harus menyiapkan diri untuk kuliah siangku.

***

Pagi ini cuaca tak begitu baik, langit mendung, angin dingin berhembus terlalu cepat. Membuatku malas untuk berangkat kuliah, walau sebenarnya memang aku tak pernah benar-benar bersemangat. Aku bersiap seperti biasanya, setelah mandi, kuambil handphoneku. Tak seperti biasanya, kali ini tidak ada pesan masuk.

Aku datang terlambat pagi ini, beruntunglah belum sampai batas waktu maksimal toleransi dari dosen. Aku terlambat 7 menit dari 10 menit waktu toleransi. Napasku sesak karena berlari menaiki tiga lantai bangunan. Ya, ruang kuliahku memang berada di lantai teratas gedung kuliah ini. Itulah alasan mengapa aku masih mau berangkat kuliah, di bangunan yang tinggi, aku merasa semakin dekat dengan langit.

Aku mengetuk pintu ruang kuliah, kubuka perlahan, kulihat dosen lelaki yang kulupa namanya sudah duduk di meja ajarnya. Matanya tak setajam kumisnya, dia hanya memandangku sekilas lalu melanjutkan bicaranya. Aku duduk di barisan terdepan yang masih kosong. Kupandang seseorang di sebelahku. Kurasa namanya Siska. Dia tersenyum padaku.

“Tumben telat?” tanyanya.

Sebuah pertanyaan yang mengindikasikan bahwa aku memang tidak pernah terlambat. Aku hanya membalasnya dengan senyum seadanya. Dia pun tak bertanya apa-apa lagi, karena sudah tahu aku tidak akan memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Aku bahkan tidak yakin dia tadi berniat bertanya padaku. Kurasa satu kelas telah memahami orang seperti apa aku ini.

Seratus menit kuliah membuatku cukup lelah, tapi aku berhasil memasukkan seluruh materi ke dalam otakku. Pelajaran mengenai geopolik dan wawasan nusantara. Dosen menerangkan pentingnya wawasan nusantara untuk generasi muda karena saat ini degradasi pengetahuan tentang itu memang sudah sangat terlihat. Degradasi wawasan nusantara ya? Aku hanya tertawa dalam hati, mana mungkin generasi di era modern seperti sekarang ini mau tahu soal jumlah pulau, letak geografis, makna nusantara, mereka tentu lebih suka belajar status-status dari akun facebook teman-teman mereka daripada disuruh menghitung jumlah pulau di Indonesia.

***

Aku berjalan menyusuri koridor kampus. Kulihat pintu ruang 321 telah terbuka lebar, itu berarti kelas A sudah menyelesaikan jam kuliah. Itu berarti juga Juna sudah meninggalkan ruangan itu. Mengapa tiba-tiba terlintas nama itu di pikiranku? Aku bingung sendiri.

Aku berjalan pulang menuju pondokan. Tiba-tiba ponselku bergetar, Ayah menelepon.

“Halo.” Ucapku.

“Kapan Ayah ngga ngajarin sopan santun? Jawab telepon dengan ucapan salam! Mau jadi apa kamu nanti?” pekiknya.

Kata-kata itu sudah tak mengagetkanku, aku hanya membiarkannya berlalu bersama angin yang baru saja berhembus melewatiku.

“Iya, Ayah. Ada apa Ayah menelepon?” tanyaku.

“Ayah sudah transfer lima juta ke rekening kamu, siang ini Ayah, Ibu dan kakakmu akan ke Jawa Timur. Kami seminggu di sana, jadi minggu ini kamu ngga perlu pulang.”

“Jawa Timur lagi?”

“Kakakmu belum sembuh benar, kami harus membawanya kesana lagi. Jangan main-main di situ, kuliah yang betul!” kata Ayah.

Aku menutup telepon karena tak mau mendengar lebih banyak. Ayah memang selalu begitu, selalu mendalami perannya dengan baik. Sangat disayangkan minggu ini aku tak bisa pulang. Aku sangat merindukan Ibu, Ibu tak pernah mengangkat teleponku karena sibuk dengan cabang bakery terbarunya di luar kota. Ia bisa ikut bersama Ayah ke Jawa Timur juga pasti karena permintaan kakak yang memaksa Ibu untuk ikut. Aku paham benar Ibu dan Ayah tak pernah menolak permintaan kakak. Aku juga merindukan kakak keduaku. Namanya Laka, Laka Bagus Suteja. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga kami. Tentu saja dia menjadi kebanggaan Ayah, terbukti dengan tersematnya nama Ayah di nama belakang kakak. Kakak adalah orang yang sangat kuhormati. Dia cerdas, pandai bergaul, rupanya persis seperti Ibu, Banyak wanita yang sering mendekatinya tetapi dia tak merespon salah satu dari mereka. Pernah sekali kutanyakan padanya alasan mengapa dia tidak mau dekat dengan wanita adalah karena dia tidak suka saja. Cuma itu saja. Dia tumbuh menjadi lelaki yang gagah seperti Ayah, setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, Ayah memasukkannya ke sekolah kemiliteran di luar kota, dia akan masuk tahun depan, maka dari itu Ayah mati-matian menggembleng fisik dan mentalnya sebelum kakak benar-benar masuk ke sekolah itu. Ayah begitu berambisi membuat kakak menjadi seperti apa yang Ayah inginkan, padahal aku paham betul kakak tidak tertarik dengan bidang yang dipilih Ayah. Kakak lebih suka dengan dunia seni, melukis adalah kegemarannya. Beberapa lukisan indah yang terpajang di kamarku adalah hasil karyanya yang dibuat khusus untukku. Tetapi lagi-lagi keadaan membuatnya menuruti kemauan Ayah, mungkin dia juga merasakan hal yang sama denganku, berpura-pura menjalankan kehidupan ini seolah tidak terjadi apa-apa. Namun satu bulan terakhir, kakak menjadi berubah. Dia menjadi pendiam, tak pernah ramah kepada siapapun, termasuk aku. Dia menjadi sangat sensitif terhadap perkataan orang, keadannya semakin memburuk karena Ayah tetap memaksanya untuk latihan fisik setiap hari. Hingga akhirnya dia mengurung diri di kamar, dan sesekali berteriak histeris tak jelas. Aku mendengar semua cerita ini dari pembantuku. Aku tak tahu benar perkembangan kakak karena aku hanya bisa pulang di akhir pekan. Aku rasa ini adalah hasil ulah Ayah yang terlalu keras mendidiknya. Tapi Ayah tak mau berhenti. Dia tetap saja seperti itu, melatih kakak yang sudah begitu parah keadaannya. Bahkan kata bibi, kakak sempat ingin bunuh diri dengan mengiriskan pecahan kaca di pergelangan tangannya. Aku hanya bisa menangis pilu jika mengingat hal itu. Sekarang kakak sudah menerima pengobatan dari seorang psikiater dari Jawa Timur, dia harus rutin menjalani terapi hingga kondisinya benar-benar membaik. Omong kosong apa ini, aku tak mau keterusan menceritakan soal cerita dibalik layar perak yang terkembang. Menjijikan.

***

Pagi hari berikutnya tak begitu buruk, aku kembali menyapa alam. Menanyakan kabar burung-burung yang bertengger di balkon pondokan. Kuliah pagi yang membuatku harus bangun sepagi ini, seperti biasa aku mempersiapkan diri. Kutengok handphoneku. Tak ada pesan masuk, lagi. Kenapa aku jadi merasa aneh ketika tidak mendapati sms baru di pagi hari. Seperti kehilangan sesuatu. Satu-satunya orang yang selalu mengirimi sms padaku di pagi hari adalah Juna. Ah, mungkin dia sudah lelah denganku. Tapi, bukankah kita baik-baik saja kemarin. Kita mengerjakan tugas bersama, dia juga masih tersenyum padaku. Atau dia marah padaku? Ah , sial, kenapa aku jadi memikirkannya!

***

Kuliah hari ini berjalan seperti seharusnya. Setelahnya aku bergegas menuju perpustakaan kampus seperti biasanya. Dua hari sekali setidaknya aku harus membaca buku ajar, hal ini kulakukan untuk mendalami peranku sebagai mahasiswa eksakta. Aku tiba di depan perpustakaan, kubuka pintunya, wush! Memang benar apa yang dikatakan Juna, udara di perpustakaan sedingin dataran tinggi Dieng, menusuk tulang, apalagi masih pagi seperti ini. Kulirik jam dinding perpustakaan, masih menunjukkan pukul 10.15WIB.

Aku mengitarkan pandangan, tak begitu ramai, ya tentu saja, karena ini adalah perpustakaan. Selama mahasiswa di sini masih menjadi mahasiswa normal, maka perpustakaan masih menjadi bagian tersepi dari kampus. Lucu sekali.

Aku duduk di sudut perpustakaan, kuambil handphone di tasku. Aku ingin menelepon Ibu, aku rindu padanya.

“Tinggalkan pesan setelah bunyi biiiip…”

Hanya suara seperti itu yang selalu kudengar setiap kali aku menelepon Ibu. Aku tahu Ibu jarang berbicara dengan orang lain kecuali rekan-rekan bisnisnya. Tapi aku adalah anaknya, tidak bisakah dia bersikap sedikit lebih baik terhadapku. Atau setidaknya berpura-pura baik di hadapanku. Itu saja sudah cukup untukku. Terakhir kali dia berbicara padaku adalah ketika melepas keberangkatanku ke kota ini. Satu kalimat yang begitu jujur padaku,

“Kalau sudah tidak bisa bertahan, pulanglah..”

Kalimat itu diucapkannya dengan ekspresi yang biasa. Tapi aku tahu bahwa Ibu begitu peduli padaku, dia tahu aku tak menerima semua ini. Dalam kalimat itu, aku masih bisa merasakan kasih sayang Ibu.

“Laraa…!!!” suara seseorang membangunkanku dari lamunan.

Biar kutebak, itu pasti Juna. Kutengok ke arah datangnya suara, ternyata bukan Juna. Aku tak tahu siapa dia, wajahnya tak asing. Kurasa dia satu kelas denganku. Iya benar, dia adalah orang yang sering berjalan beriringan dengan Juna. Tapi aku masih saja tak bisa mengingat namanya.

“Iya, ada apa?” jawabku.

“Kamu apa kabar?” sebuah pertayaan aneh keluar dari orang yang bahkan aku sendiri tak tahu siapa namanya.

Aku hanya diam tak menjawab, mataku masih memandang wajahnya.

“Em, gue Andri, temennya Juna.” Begitu caranya memperkenalkan diri.

Aku masih tetap diam karena terlalu malas menanggapi kata-katanya. Kubalikkan badan ke posisi sebelumnya.

“Gua kesini cuma mau ngasih ini.” dia berkata sambil menyodorkan secarik kertas padaku.

Aku menengok, dan menerima kertas itu.

“Gua pergi ya, thanks.” Itu kata-kata terakhir yang diucakannya sebelum berlalu pergi.

Kubuka secarik kertas yang diberikannya.

“Selamat pagi, Lara.. Semoga kamu tersenyum pagi ini J “

-Juna-

Memang benar, aku tersenyum membaca kertas ini. Hatiku kembali merasakan sesuatu yang berbeda. Aku semakin penasaran dengan keberadaannya saat ini. Di mana dia sebenarnya, apa yang dia lakukan di sana. Karena sudah seminggu ini dia tak menggangguku. Aku seperti kehilangan sesuatu dalam hari-hariku. Senyum tulusnya tak pernah lagi tampak. Aku benar-benar sudah merindukannya. Benarkah ini?

Aku mencoba menolak perasaan ini dengan tetap tenang membaca buku. Tapi pikiranku tak lagi terfokus pada buku di tanganku. Bayangan Juna semakin banyak berlalu lalang di pikiranku. Aku disibukkan dengan bayangan kehadirana dirinya.  Ah, aku pasti sudah gila. Tapi jika aku tak menghubunginya aku akan mati penasaran. Kuputuskan untuk meneleponnya.

“Hello, good morning Ms. Lara?” suara seorang wanita dengan logat bahasa inggris menyapa panggilan teleponku.

“Excuse me, can I speak with Juna?” jawabku.

“I’am really sorry but Mr. Juna have to take a rest for a moment after his operation.” Katanya.

“Operation? What do you mean?” tanyaku.

“Mr. Juna have done pneumatorical operation last night.”

Operasi paru-paru? Apa maksudnya, benarkah dia sedang sakit, hatiku semakin tidak karuan.

“Where is the hospital?”

“Raja Medica, Singapore.” Jawabnya.

“Okay, thank you.”

Apa-apaan ini, benarkah Juna sesakit itu? Ada apa sebenarnya? Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Bukankah dia baik-baik saja selama ini? Aku termenung sendiri dalam lamunanku. Hatiku gelisah. Perasaan apa ini sebenarnya, aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Aku tak tahu harus bagaimana. Haruskah aku berdiam diri saja dalam diam. Membiarkan rasa penasaran ini menggerogoti perasaan dan pikiranku. Aku terdiam.

***

Sampai di pondokan aku masih saja melamun. Masih memikirkan Juna, benarkah ini diriku? Bukankah selama ini aku tidak pernah peduli dengan orang lain? Aku tak mengerti perasaan ini? Aku harus bagaimana?

Ponselku berdering, Ayah menelepon.

“Assalamu’alaikum.” Jawabku.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab Ayah.

“Pulang sore ini, Ayah akan kirim sopir jam tiga.” Perintahnya.

Ayah langsung menutup teleponnya, perintah seperti itu sudah biasa kudapatkan. Layaknya seorang prajurit yang nerima komando dari atasannya. Aku hanya bisa menjalankan perintah tersebut. Kulihat jam dinding, pukul 12.30WIB, aku menyiapkan barang-barangku untuk kubawa pulang.

Pukul tiga sore, Pak Kadim, sopirku sudah berada di depan pondokan. Berbeda dengan biasanya, hari ini dia menjemputku dengan Avanza hitam milik Ayah. Biasanya dia menjemputku dengan mobil rumah yang bisa dipakai oleh semua anggota keluarga.

“Sudah siap, Mbak?” tanya Pak Kadim.

“Ayah mana?” tanyaku.

“Tuan sudah di rumah sedang menunggu Mbak Lara.”

“Nunggu saya? Ada apa emang?”

“Ngga tau Mbak, saya cuma disuruh untuk jemput Mbak Lara.”

Aku masuk ke dalam mobil. Perjalanan kulalui dengan hati yang tak begitu tenang. Pikiranku masih terpaku pada Juna, tapi hatiku juga memikirkan keadaan rumah karena Ayah tiba-tiba memintaku pulang. Perjalanan dari kota ini menuju kotaku tak memakan waktu lama, hanya satu jam perjalanan, apalagi jalan raya yang kami lalui tak begitu padat kendaraan. Kota ini adalah kota baru. Baru saja menjadi kota maksudku. Tapi kuyakin lima tahun ke depan kota ini akan menjadi besar, pembangunan di tahun ini juga sudah cukup baik. Berdiri pusat perbelanjaan di sana sini, objek wisata dimana-mana, dan perancanaan penambahan taman kota. Aku mengetahui semuanya ketika aku melihat racangan pembangunan pemerintah di alun-alun kota ini.

***

            Ayah menyambutku dengan wajah biasa. Tak ada orang di ruang tamu selain dirinya. Pak Kadim sibuk memarkirkan mobil Ayah ke garasi.

“Assalamu’alaikum.” Aku mengucapkan salam.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab ayah.

“Ibu mana, Yah?”

“Jam segini nanyain Ibu, apa kamu sudah lupa kebiasaan. Ibumu jam segini pasti masih sibuk di resto!” bentak Ayah.

Aku hanya terdiam menyikapi ucapan Ayah, tak mau membantah lagi. Kulihat wajah Ayah begitu lelah, aku tahu dia pasti lelah menjaga kakak. Dia merelakan dirinya untuk cuti selama seminggu demi memperjuangkan kesembuhan kakak. Aku jadi ingin bertemu kakak. Aku berlalu dari Ayah, dan menuju kamar kakak.

“Kak Laka?” ucapku.

Tak ada jawaban. Aku membuka pintu dan masuk ke kamar kakak. Kulihat kak Laka sedang berdiri menghadap jendela. Aku berjalan mendekatinya, dia mungkin tak menyadari kedatanganku. Aku berdiri tepat di sampingnya, wajahnya masih tampan seperti biasanya, tapi agak sedikit pucat. Matanya memandang keluar dengan pandangan kosong.

“Kakak sudah makan?” tanyaku.

Kakak seketika memelukku erat. Dia menangis tersedu dalam peluknya. Aku semakin bingung dibuatnya.

“Kakakmu ini sudah menjadi gila, Dik. Kakakmu ini tidak lagi pantas diperdulikan. Kakakmu ini tak pantas kau panggil kakak. Kakak ingin mati, Dik. Kakak ingin mati.”

Begitu ucapan yang terdengar begitu jelas di telingaku. Menusuk sampai ke dalam uluh hatiku. Aku juga menangis tersedu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kondisinya membaik karena dia sudah mau berbicara, tapi pikirannya masih belum seimbang. Kulepaskan pelukannya, kuajak dia untuk duduk di sofa. Dia hanya tersandar lemah.

“Dik, bunuh saja kakakmu ini. Kakak tak ingin hidup lagi.” Ucapnya lagi.

Aku hanya menarik pas panjang, aku belum ngin mengeluarkan kata-kata apapun padanya. Karena kutahu itu hanya akan menambah beban pikirnya. Dia kembali bercerita.

“Ayah membuang semua yang aku sukai, bahkan jiwaku juga sudah dihilangkan oleh Ayah. Sekarang haya tersisa raga lemah tak berdaya ini. Kanvas-kanvas berisi lukisan indah itu telah dibakarnya. Jiwa ini sudah hilang. Tuhan memang tidak pernah adil padaku. Mengapa dia melahirkanku dalam keluarga yang menjijikan seperti ini? Bukankah kamu juga merasa muak, Dik? Bukankah kamu juga lelah dengan semua ini? Mengapa kamu hanya diam saja? Mengapa kamu tak berani berbicara dengan lelaki tua brengsek itu? Hidup kita telah diaturnya. Hidup kita telah tergadai oleh aturannya. Mengapa kamu hanya diam saja, bodoh?!”

Kata-katanya kuterima sepenuhnya dalam hati. Aku tak menangis lagi. Aku harus terlihat kuat di hadapannya.

“Bahkan jika aku memberontak, mungkin aku hanya akan berujung seperti Kakak.” Kataku.

Aku berlalu meninggalkan kakak. Kurasa pertemuan hari ini cukup. Aku terlalu lelah hari ini. Aku naik ke lantai dua rumahku dan masuk ke kamarku. Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kamar yang seharusnya bisa kunikmati dengan nyaman, tapi aku tak pernah tertidur lelap di sini. Kurasa aku harus membuka akun facebookku untuk mengunduh file materi kuliah hari ini. aku langsung menuju grup kelasku. Tapi ada yang menarik perhatianku, Andri Prakoso mengirimkan sesuatu di dindingku.

“Lara?” tulisnya.

Dia hanya memanggil namaku. Aku membuka timeline facebook Andri, dan aku tercengang dengan status terbarunya yang baru di update tiga puluh menit yang lalu.

“Musim semi tak lagi berarti, karena gemuruh kabar telah meruntuhkan suka citanya. Ramai langit membicarakan kegaduhan ini, bumu pun seperti menuntuk kepada Tuhan karena terlalu cepat memanggilnya, selamat jalan Arjuna Mahesa, Tuhan memberkatimu..”

Aku kaget bukan main, apa maksud dari status Andri ini. aku meraih ponselku dan menelepon Juna.

“Halo, Lara..” lagi-lagi suara seorang wanita yang menjawab panggilanku.

“Juna ada?!”

“Ini Lara kan? Ini tante sayang, mamanya Juna. Kamu apa kabar?”

“Oh tante, maaf, aku baik tante. Bisa saya bicara sama Juna?”

“Kalau kamu memang ingin bertemu Juna, kamu datang saja kesini. Ke rumah Juna, Juna sudah menunggumu dari tadi.”

“Sungguh tante, iya, saya kesana sekarang.”

Aku bergegas menuruni tangga. Tak kuhiraukan lagi Ayah yang masih saja tertunduk lesu di ruang tamu. Aku berlari menuju garasi, kuminta kunci mobil dari Pak Kadim. Kutancap gas mobil, butuh waktu dua jam perjalanan menuju rumah Juna yang aku sendiri tak tahu arahnya. Aku hanya mendeteksinya dari GPS handphone Juna yang selalu aktif. Dia pernah berkata padaku bahwa dia selalu mengaktifkan GPSnya agar orang lain mudah menemukannya. Aku tak lagi berkonsentrasi mengemudi. Tapi aku harus.

***

            Kurasa aku menemukan rumahnya, sinyal GPS menunjuk rumah ini. Rumah dua lantai berwarna oranye muda dengan halaman luas di depannya. Aku memarkirkan mobilku di halaman rumahnya. Aku bergegas masuk, ada banyak orang berkerumun di ruang tamu. Wangi kpur barus begitu menyengat. Aku semakin bingung dibuatnya. Aku mengetuk pintu yang terbuka, seorang wanita menghampiriku.

“Lara?” tanya wanita itu.

“Iya, saya Lara. Di mana Juna?”

Wanita itu tiba-tiba memelukku erat sekali. Aku melepaskan pelukannya.

“Ayo, Juna udah nunggu kamu.”

Dia membawaku ke tengah kerumunan keluarga besar Juna, ditunjukkan padaku tubuh Juna yang sudah didandani dengan setelan jas hitam. Wajahnya pucat, dia seperti tertidur lelap dalam mimpinya. Dia tersenyum dengan mata yang masih saja tertutup. Kain transparan putih menutup peti tempatnya bebaring. Foto besarnya berdiri tegak di atas peti itu. Salib besar juga berdiri tegs di sebelahnya. Aku termangu. Diam seribu bahasa. Melongo melihat apa yang kusaksikan. Aku tak tahu harus melakukan apa.

Aku tak sanggup melihatnya lagi, kubalikkan badanku dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Tak terasa air mataku mengalir deras. Aku berhenti di depan pintu, aku tak sanggup berdiri lagi. Mama Juna meraih tanganku. Dia memberikan sesuatu padaku. Sebuah buku catatan berwarna hitam.

“Bawa ini sebelum kamu pulang..”

“Kenapa jadi kaya gini Tante?”

“Juna sudah terlalu lelah, Lara. Kanker paru-paru yang diidapnya sejak tahun lalu mengalahkan tubuh kuat Juna. Doker sudah memperkirakan kematiannya pada enam bulan lalu, tapi nyatanya dia bisa bertaha sampai saat ini. Ini karena kamu, Lara. Terimakasih.”

Mama Juna kembali memelukku.

***

            Sesampainya di rumah aku membuka lembar pertama buku catatan Juna.

24 November 2013

“Aku bahagia Tuhan, Engkau memperlihatkan permata yang begitu indah padaku. Kini aku harus menjalani hari-hariku dengan baik.”

Di lembar bagian tengah kudapati fotoku terpajang. Aku sedang tersenyum di foto itu, aku tak tahu kapan tepatnya foto itu diambil. Aku tak menyadari bahwa aku pernah tersenyum selepas itu.

Di bawah fotoku terdapat tulisan

“Wajah seperti ini yang mampu membuatku bertahan hidup, tetaplah tersenyum seperti itu, walau namamu adalah Lara.. Lara Anjani J -30 Januari 2014-

Aku tertegun membacanya. Benarkah dia menyukaiku? Menyukai orang sepertiku?

21 Februari 2014

“Ajakanku untuk menjemputnya terus saja ditolak. Tapi itu membuatku lebih bersemangat, kurasa memang benar dialah orangnya. Orang yang kelak akan menjadi bagian terbaik hidupku yang tak akan lama ini..”

02 Maret 2014

“Hari ini aku tak melihat senyumnya, dia berjalan dengan tertunduk lemah. Ingin sekali aku menghiburnya. Tapi hidungku terus saja mimisan, jadi aku hanya melihatnya dari kejauhan.”

Aku ingat 02 Maret 2014 adalah hari pernikahan kakak pertamaku Lana Anjani, aku merasa begitu sedih di hari itu karena aku tak bisa lagi membayangkan betapa menderitanya kakak ketika dia harus menikah dengan orang yang telah dipilih ayah untuk menjadi suaminya. Ayah memilih sosok tua dengan beda usia sepuluh tahun dengan kakak. Kakak sendiri sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Malam sebelum hari pernikahan tiba, dia memelukku erat sekali, dan mengatakan hal yang serupa dengan apa yang dikatakan Kak Laka waktu itu. Tapi aku tak akan pernah bisa melawan Ayah, manusia adikuasa itu benar-benar membuatku muak. Aku hanya bisa menghibur Kak Lana dengan guyonan-guyonan kecil yang setidaknya bisa membuatnya tersenyum. Yang paling dia sesalkan adalah harus meninggalkan kekasihnya yang begitu ia cintai. Kurasa kekasih kakak bukanlah orang yang buruh, mapan dan memiliki latar belakang keluarga yang baik, jauh lebih baik daripada calon yang dipilih Ayah saat itu. Pada hari pernikahan aku menyanyikan sebuah lagu untuk Kak Lana, aku diiringi iringan piano Kak Laka. Setidaknya ini bisa membuatnya sedikit tersenyum di hari pernikahannya. Sampai sekarang Kak Lana belum memiliki anak. Mungkin karena dia tidak pernah menerima kehadiran suaminya. Kudengar dari Ayah, Kak Lana sering berlibur keluar negeri bersama suaminya yang pengusaha itu. Aku selalu dilarang Ayah untuk menelepon Kak Lana, Ayah tak pernah menjelaskan alasannya. Semoga saja keadaannya memang benar seperti apa yang dikatakan Ayah. Aku begitu merindukan senyumnya ketika kami terakhir kali berlibur di pulau Bali. Itu menjadi kenangan terakhir kami bersama-sama, aku, Kak Lana dan Kak Laka. Tak ada Ayah ataupun Ibu karena kami memang berlibur diam-diam. Memori itu kembali membuatku menyalahkan keadaan. Aku kembali menyalahkan keadaan, mengapa Tuhan menjadikan kami sebagai anak-anak Ayah. Kehidupan yang berlimpah materi tak selamanya membuat kami bahagia. Bahkan kami kadang ingin menghilang dan mati. Tapi aku harus bertahan.

Aku melanjutkan membaca cerita di buku catatan Juna.

02 Mei 2014

Hidup adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan padaku

Untaian waktu yang begitu bermakna telah Tuhan percayakan padaku

Melihat dunia yang begitu indah

Bersama orang-orang di sisiku yang selalu menjagaku

Kesempatan yang terbaik pula untuk bisa bertemu dengannya

Lara Anjani, aku ingin sekali membuatnya tersenyum lepas

Aku ingin menyadarkannya tentang indahnya dunia ini

Tuhan berikan aku waktu hidup sebentar lagi

Sampai aku benar-benar bisa melihatnya tersenyum untukku

Aku ingin sekali menopang seluruh luka yang terpendam dalam hatinya

Agar berlian itu bersinar seperti seharusnya

Amen

Air mataku menetes membaca tulisan ini. Juna. Beginikah aku bersikap padanya selama ini? Aku telah mengabaikannya. Doanya begitu tulus dia panjatkan kepada Tuhannya. MemintaNya memberikan waktu hidup untuk bisa membuatku tersenyum. Aku menertawai diri sendiri, beginikah aku? Beginikah diriku? Begitu memuakkan hati. Maafkan aku, Juna.

Aku membuka halaman berikutnya.

10 Mei 2014

Seperti biasanya tawaranku menjemputnya masih saja ditolak. Hatiku sakit? Tentu saja, tapi aku belum ingin menyerah. Aku datang lebih pagi hari ini, beruntungnya aku bisa melihatnya tersenyum di balkon pondokannya. Aku memandangnya begitu lama, dia selalu tersenyum lepas setiap kali melihat langit. Kuyakin dia belum mandi pagi itu, tetapi wajahnya tak mencerminkan itu, masih cantik alami. Lagi-lagi aku mendapat energi kehidupan darinya. Aku juga memberikan sebuah surat padanya pagi itu, mengatakan aku bahagia bisa melihat senyumnya. Walau dia tetap menanggapiku dengan dingin, setidaknya aku melihatnya dari kejauhan dia membuka surat dariku. Aku hanya kegirangan.

Aku tersenyum membaca cerita ini.

11 Mei 2014

Bahagianya hari ini, aku bisa mengajaknya mengajariku mata kuliah statistika. Aku bisa sepenuhnya melihat parasnya walau hanya 45 menit saja, aku tetap saja bahagia. Hal itu menambah keberanian untuk melakukan operasi besok.

Lagi-lagi aku dibuatnya terenyuh. Di halaman berikutnya aku melihat tulisannya berbeda dari biasanya. Tidak serapi tulisan sebelumnya.

Singapura, 17 Mei 2014

Mataku kembali terbuka dari mimpi yang panjang. Sakit akibat goresan pisau bedah masih kurasakan di dadaku. Tapi aku harus menulis sesuatu di buku ini, karena aku ingin suatu saat Lara membacanya. Dadaku masih terasa begitu sakit. Tapi selang oksigen sudah bisa kulepaskan. Akhirnya aku bisa melalui operasi ini dengan baik. Aku begitu meindukan Lara, mungkin surat yang aku titipkan pada Andri seminggu lalu sudah dibaca oleh Lara.

19 Mei 2014

Ada dua berita yang membuatku terkejut hari ini. Suster mengatakan bahwa Lara sempat meneleponku ketika aku masih belum tersadar. Aku bahagia mendengarnya, aku ingin segera menemuinya. Aku sekuat tenaga bangun dari tempat tidurku. Namun dokter menyuruhku untuk tetap tinggal sampai masa rehabilitasi selesai. Jadi aku hanya bisa terbaring di kasur rumah sakit selama masa rehabilitasi. Tadi aku mendengar percakapan Mama dengan dokter bedahku. Aku sengaja pura-pura tertidur agar aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Sakit di dadaku bertambah ketika dokter mengatakan bahwa operasi pengangkatan kanker paru-paruku gagal. Dia mengatakan bahwa kanker telah mencapai organ vital lain di dalam tubuhku. Dia juga menambahkan bahwa usiaku tak akan sampai satu minggu lagi. Kuyakin Mama menjerit dalam hatinya. Aku hanya mendengar isak tangis yang tertahan. Aku kembali menutup mataku, berharap bahwa ini semua hanya mimpi, dan aku akan terbangun dengan keadaan yang baik-baik saja.

Aku menjerit di dalam hati membaca tulisan ini. bagaimana mungkin dia bisa membayangka dirinya berada di ujung kematiannya. Aku yakin dia tak bisa menanggung ini sendiri. Aku ingin sekali memutar waktu. Andai saja waktu itu aku bergegas menyusulnya ke Singapura, setidaknya aku bisa memeluknya dan memberinya semagat hidup.

21 Mei 2014

Tercipta khusus untuk Lara-ku..

Lara, maafkan aku yang hina ini yang belum bisa mengangkat penderitaanmu. Aku masih belum bisa membuatmu tersenyum. Aku belum bisa membuatmu melupakan semua masalahmu. Maafkan aku yang terlalu lemah menghadapi penyakit ini. Nyatanya aku tak mampu bertahan lagi, sakit sekali dada ini merasakan penyakit yang telah lama menemani hidupku. Lara, aku ingin kau tersenyum pada dunia. Buktikan kepada mereka bahwa engkau bisa menghadapi masalah apapun dengan senyummu. Aku akan sangat bahagia jika aku bisa melihat senyummu untuk terakhir  kali. Setelah aku tak ada, kumohon padamu untuk tidak lagi bersedih. Aku mencintaimu, Lara. Sungguh aku mencintaimu..

Aku terisak lagi, tulisan ini ditulis dengan tulisan yang begitu buruk. Kuyakin dia sedang merasakan sakit yang begitu menyesakkannya. Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku menyalahkan diri sendiri, mengapa aku begitu bodoh mengabaikannya selama setahun ini? Betapa bodohnya aku menyia-nyiakan orang yang begitu tulus seperti dia? Aku hanya terdiam dalam keheningan malam itu. Mataku masih terbuka, hatiku entah berkelana kemana, pikiranku masih tertuju pada Juna. Aku memeluk erat buku harian Juna. Aku merindukan waktu itu. aku merindukan saat-saat dimana aku bisa melihat senyum tulusnya. Aku ingin menggenggam tangannya. Aku ingin membalas pesan-pesannya. Aku ingin menyapanya setiap pagi. Aku ingin menemaninya ketika dia kesakitan. Aku ingin sekali saja tersenyum di hadapannya. Aku ingin saat-saat seperti itu datang padaku lagi. Tuhaaan!!!

***

“Laraaa!!” suara Ayah membangunkanku.

Aku bergegas menuruni tangga.

“Panggil ambulan sekarang!!!” teriak Ayah padaku, air matanya mengalir deras di pipinya.

“Kenapa Ayah?” tanyaku.

“Kakakmu berulah lagi!”

Aku berlari ke kamar kakak, kulihat kak Laka sedang tersenyum, tetapi darah mengalir deras dari pergelangan tangannya. Aku hanya berteriak. Aku bergegas memanggil ambulan. Ayah jatuh tersungkur di depan kamar kakak. Aku memanggil ambulan sambil terisak. Tak lama berselang ambulan datang, kutengok kakak, dia sudah tergeletak di lantai kamarnya. Petugas ambulan langsung menggotongnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kutelepon Ibu, dia tak menjawab teleponku. Aku mengajak Ayah untuk ikut ke rumah sakit, dia menuruti perkataanku. Dia bangkit dengan lemahnya.

***

            Aku hanya tertunduk lemah di depan ruang ICU, begitu pula dengan Ayah. Sampai saat ini aku tak melihat kedatangan Ibu. Aku mencoba menelepon kak Lana, ternyata nomornya sudah tidak aktif.

“Ibu tak mengangkat teleponku, Kak Lana juga nomornya tidak aktif.”

“Berhenti membicarakan manusia-manusia yang memuakkan itu!”

“Memuakkan?! Tidakkah Ayah berkata berlebihan? Atau Ayah sudah lelah memiliki kami? Ayah sudah lelah bermain-main dengan kehiduppan kami? Ayah sudah lelah menjadikan kami sebagai boneka hidup yang begitu bodoh? Ayah lelah?!!”

Aku memberanikan diri untuk mengatakan isi hatiku pada Ayah.

“Ibumu kabur.” Kata Ayah.

“Kabur? Maksud Ayah?” aku bertanya dengan penuh rasa ingin tahu pada Ayah.

“Dia bilang ingin mengunjungi cabang bakerynya di luar kota seminggu lalu, tapi sampai sekarang dia belum kembali. Dan Lana, dia meninggal satu bulan yang lalu. Suaminya adalah seorang psikopat, kakakmu dibunuh olehnya karena tak pernah mau menuruti kata-kata suaminya.”

Aku terdiam mendengar cerita Ayah, aku terdiam begitu lama. Aku tak mengeluarkan sepatah katapun, bau rumah sakit yang menyengat menambah beban luka di hatiku. Ingin sekali aku berlari menjauh dari Ayah. Ingin sekali aku membawa kak Laka pergi dari sini. Aku benar-benar membenci Ayah saat ini. air mataku tak mau berhenti mengalir, Ayah juga tak berkata apa-apa padaku. Dokter keluar dari ruang ICU, aku bangkit dan menanyakan keadaan kak Laka.

“Keadaannya sudah stabil, tapi dia butuh pengawasan khusus karena bisa saja dia tiba-tiba mengamuk ketika tersadar. Kamu adiknya?” kata dokter.

“Iya dok, saya adik pasien.”

“Syukurlah, sejak tadi dia memanggil “dik” berulang kali. Temani dia sampai dia tersadar.”

“Baik, Dok. Terimakasih banyak.” Kataku.

Aku msuk ke ruang ICU tanpa memperdulikan Ayah, pintunya pun kututup kembali dari dalam. Aku melihat kakak terbaring lemah dalam tidurnya. Wajahnya pucat sekali. Perban tebal mengikat pergelangan tangannya. Ada bekas luka di kepalanya juga. Kurasa kakak mengalami puncak depresi tadi malam. Aku menyesal tak menemani kakak malam tadi, itu karena aku terbawa suasana membaca buku harian Juna. Aku menunggu kakak sambil melamun. Bertanya kepada diri sendiri mengapa aku dikelilingi orang-orang yang mendapat perlakuan tidak adil dari Tuhan. Dan mengapa kesemuanya ini terjadi dalam waktu yang bersamaan. Aku merasa menjadi manusia yang begitu bodoh dipermainkan oleh keadaan. Aku lelah sekali. Aku benar-benar lelah. Lelah dengan kehidupan semacam ini.

***

            Dua tahun berlalu begitu cepat. Kini aku menjalani kehidupan yang sudah bisa kuterima dengan baik. Kurasa Tuhan memberikan kesempatan kedua kepadaku untuk hidup. Aku sudah bisa hidup lebih baik untuk saat ini. Aku telah menyelesaikan studi S1 ku dalam waktu tiga tahun, kini aku menetap di Bali bersama Kak Laka. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan terkemuka di Denpasar. Dan Kak Lana sudah jauh membaik, dia sudah lupa dengan masa lalunya. Kini dia memfokuskan diri untuk menekuni seni lukis bersama komunitas lukisnya. Aku tak tahu di mana keberadaan Ayah, dia meninggalkanku dan Kak Laka ketika kami di rumah sakit. Aku juga enggan mencarinya lagi, rasa marah kala itu memaksaku untuk terus menyalahkan Ayah sebagai penyebab dari permasalahan di dalam keluarga kami. Kini layar perak itu benar-benar telah roboh. Yang tersisa hanya cerita nyata yang ditampilkan oleh pemeran-pemeran sandiwara. Aku, Kak Laka dan Ibu di sini telah menemukan kehidupan barunya. Ternyata Ibu telah lama menetap di Bali semenjak dia benar-benar muak dengan Ayah. Kami bahagia bersama, walau terkadang menangis pilu mengingat kisah Kak Lana yang meninggal sia-sia. Jeritan hati kami itulah yang membuat kami tidak bisa memaafkan Ayah.

“Laraaaa!!!” suara Kak Laka mengejutkanku.

Aku menoleh padanya.

“Lihat, lukisanmu sudah jadi. Indah bukan?” katanya padaku sambil tersenyum.

“Aku mengangguk dan tersenyum padanya.”

Sebuah lukisan diriku berdiri di tepi pantai. Buku harian Juna tak lepas dari genggaman tanganku. Aku memang selalu membawanya kemana-mana. Setidaknya aku bisa membaca tulisannya ketika aku merindukannya.

Cerita kelam di masa lalu benar-benar ingin aku lupakan. Tuhan telah menjawab keinginan terbesarku. Kala itu aku memohon kepada Tuhan untuk memberikanku keadaan dimana aku tak lagi berakting dalam menjalani kehidupanku. Kini doaku telah dijawab olehNya, hal ini membuatku tersadar bahwa Dia tak pernah pergi meninggalkanku. Walau aku harus kehilangan banyak hal yang aku miliki, dan aku harus menjalani bagian terpahitnya. Aku merasa lega, karena aku mendapatkan segala yang lebih baik sekarang. Terimakasih Tuhan.

-SELESAI-

Selamat Menulis Kembali

Hello, my new friend. Akhirnya bisa menyempatkan diri lagi untuk menulis di dunia maya. Setelah kematian blogku sebelumnya, maka aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Hal-hal konyol seperti melupakan password dan sebagainya akan kuminimalisir dengan tidak menganggurkan blog baruku ini. Terimakasih masih mau menerima curahan hati manusia tanpa hati ini. Hahaha. Ketika teman sejati tak bisa menyimpan dan mengingat ceritaku dengan baik, maka kuyakin blog lebih dari seorang teman sejati. Sekalipun tak berucap, sekalipun tak memberikan saran, setidaknya dari blog lah aku bisa melihat dan menjadi diriku sendiri.

Salam

Purwokerto